Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Melayu, Budaya yang Menafsir Ulang Posisi Dirinya

Senin 03 Dec 2012 23:59 WIB

Red: Yeyen Rostiyani

Remaja belia tampil dalam pertunjukan budaya saat pembukaan Dialog Melayu di Pekanbaru, Senin malam (3/12).

Remaja belia tampil dalam pertunjukan budaya saat pembukaan Dialog Melayu di Pekanbaru, Senin malam (3/12).

Foto: Republika/Yeyen Rostiyani

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU - Budaya Melayu dicirikan sebagai budaya dinamis yang aktif merespons aneka perubahan di sekitarnya. "Melayu menafsir ulang posisi dirinya dalam konstelasi dunia yang selalu berubah," kata Al Azhar, salah satu ketua Lembaga Adat Melayu Riau dalam Dialog Budaya Melayu, Senin (3/12).  

Penafsiran ulang itu, katanya, menciptakan mekanisme pertahanan diri agar dapat berlangsung hidup di tengah dunia kontemporer. Ia juga mengkritik saat Melayu khususnya Riau tersentuh oleh kekuasaan semasa Orde Baru. Akibatnya, eskploitasi sumber daya ekonomi membuat Melayu seakan "dilanggar". 

Melayu, katanya, kini "dikalahkan" oleh keindonesiaan. "Maka Melayu dianggap menang di Malaysia. Namun, Melayu dianggap kelah di Indonesia dan Singapura.   

Sementara Profesor Harun Daud dari University Kelantan menafsirkan konsep budaya Melayu. "Melayu itu berarti bangsa yang merendah diri tapi berisi, sopan," katanya. 

"Di Malaysia, semua orang Muslim adalah Melayu. Baik mereka Cina, India, atau Tamil, asalkan mereka Muslim maka mereka dianggap Melayu," kata Harun.

Daya tahan budaya Melayu juga diakui Direktur Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud, Endjat Djaenuderadjat. "Syukurlah hingga kini budaya Melayu masih eksis di tengah budaya modern," kata dia. 

Semua itu terangkum dalam pertemuan hari pertama Dialog Melayu. Acara bertajuk bertema “Revitalisasi Kearifan Budaya Melayu, Kini dan Masa Datang” ini dibuka Senin malam dan berlangsung hingga Rabu.

Forum dialog ini menghadirkan para pelaku bidang kebudayaan, tokoh masyarakat, sejarawan, pecinta seni dan budaya, serta seniman. Selain dialog, acara ini juga akan menampilkan sejumlah pertunjukan seni dan pameran budaya Melayu. Masyarakat Melayu kini tersebar di semenanjung Asia Tenggara, seperti Riau, Kepulauan Riau, Malaysia, Singapura, Serawak, Brunei dan Kalimantan Barat. Maka acara ini pun melibatkan para narasumber dari Malaysia, Brunei, Thailand dan rencananya juga dari Singapura dan Filipina.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA