Saturday, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 January 2020

Saturday, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 January 2020

Inilah Penyebab Utama Maraknya Kasus Keracunan Makanan

Selasa 10 Apr 2012 11:44 WIB

Red: Heri Ruslan

Korban keracunan (ilustrasi)

Korban keracunan (ilustrasi)

Foto: Antara/Nyoman Budhiana

REPUBLIKA.CO.ID,  BOGOR -- Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menilai masyarakat setempat masih kurang paham tentang hygiene sanitasi makanan, sehingga sering terjadi kasus keracunan makanan di daerah itu.

Hal itu dikemukakan Kepala Pemberantasan Penyakit Menular dan Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor Euis Wulantari, Selasa.
Euis mengatakan bahwa kasus keracunan makanan yang menimpa masyarakat hampir setiap tahunnya terjadi di Kabupaten Bogor.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor pada tahun 2012, kasus keracunan sudah dua kali terjadi. Sebelumnya, pada bulan Februari di Parung. Kasus tersebut muncul saat adanya peristiwa hajatan seperti pernikahan, haul, Maulid Nabi, sunatan, dan Lebaran.

Kebanyakan kasus terjadi di tengah masyarakat perdesaan yang jauh dari pusat pelayanan kesehatan sehingga masih minim informasi tentang kebersihan, sanitasi, dan makanan.

"Masyarakat masih menggunakan cara-cara lama dalam menyajikan hidangan secara massal. Tidak memperhatikan hygienes bahan makanan, sanitasinya, dan cara mengolah makanan tersebut," kata Euis.

Menurut Euis, masyarakat belum tahu batas aman penyimpanan makanan yang sehat, dan bagaimana mengelola hidangan lebih hygienis dan cara membersihkan makanan. Peristiwa keracunan makanan hajatan di Kampung Bojong Sempu Desa Cilebut Barat Kecamatan Sukaraja merupakan salah satu contoh dari kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memperhatikan hygiene sanitasi makanan.

"Mereka memasak seadanya tanpa memahami batas-batas waktu makanan ini layak disajikan. Misalnya, masak sudah sejak pagi, enam jam kemudian hidangan baru dibagikan. Tentu ini memicu kuman pada makanan, bila dalam penyajiannya tidak memperhatikan aspek-aspek tersebut," katanya.

Euis mengatakan pihaknya telah mengirim sampel makanan yang dikonsumsi ratusan warga Kampung Bojong Sempu untuk dikirim ke Balai Teknis Kesehatan Lingkungan Jakarta guna memastikan keracunan yang dialami warga.

Peristiwa keracunan terjadi Minggu (8/4) sebanyak 186 warga di kampung tersebut mengalami mual-mual, muntah, diare, dan demam usai menyantap bingkisan makanan atau "besek" yang disajikan pemilik hajatan di wilayah tersebut.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA