Wednesday, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 February 2019

Wednesday, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 February 2019

SBY: Mas Sudi (Silalahi) Bukan Tipe Pembebek

Selasa 19 Jul 2011 14:04 WIB

Red: Krisman Purwoko

SBY-Sudi Silalahi

SBY-Sudi Silalahi

Foto: presidenri.go.id

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai sosok Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi sebagai pribadi yang setia, tidak memiliki agenda tersembunyi dan bukan tipe "pembebek". Dalam kata pengantar yang ditulisnya pada buku biografi Sudi Silalahi berjudul "Jenderal Batak dari Tanah Jawa", Presiden Yudhoyono mengatakan, dalam politik dan pemerintahan, kesetiaan sebagai elemen penting dari integritas seseorang adalah sungguh sangat penting.

"Mas Sudi bukan tipe 'pembebek', karena sesungguhnya juga seorang yang rasional. Oleh karena itu, ketika Mas Sudi sungguh meyakini bahwa keputusan, solusi dan kebijakan yang saya ambil dalam berbagai bidang adalah tepat dan realistis, maka tidak pernah saya lihat keraguan ataupun niat untuk tidak menjalankannya," tulis Yudhoyono dalam kata pengantarnya pada buku tersebut.

Karena itu, kata pria kelahiran Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949 itu, ada yang mengatakan bahwa Sudi Silalahi adalah "bemper"-nya SBY, bahkan ada juga yang salah melihat Sudi hanya Asal SBY Senang (ABS). Menurut SBY, di samping pandangan itu keliru, juga menyakitkan.

Suami dari Kristina Herawati atau yang lebih dikenal dengan Ani Yudhoyono itu mengatakan, banyak saran Sudi Silalahi yang diperhatikan dan didengarnya. Tetapi, lanjut dia, ketika keputusan sudah diambilnya, Sudi Silalahi tatkala menjabat sebagai Sekretaris Menko Polkam, Seskab maupun sebagai Mensesneg, segera menjalankannya dengan sepenuh hati.

Sebagai seorang menteri, Sudi dinilai sangat paham atas suatu masalah yang telah diputuskan presiden dan selanjutnya mencari solusi yang dibutuhkan. "Dalam menjalankan instruksi, keputusan dan kebijakan saya, Sudi tidak pernah menghitung untung-rugi, termasuk dari segi politik untuk dirinya. Ini sesungguhnya merupakan etika politik yang mesti dimiliki oleh siapapun yang menjadi pembantu presiden," ujar Yudhoyono.

Untuk soal politik, ketika ada pihak-pihak yang "menggoreng isu" di sana-sini, Yudhoyono sering mengingatkan Sudi bahwa mereka sudah sama-sama tua dan mendapat karunia Tuhan Allah untuk merasakan pahit-getir dan asam-garamnya kehidupan. Karenanya, baik Sudi maupun SBY merasa tidak perlu terlalu terganggu terhadap komentar dan ejekan dari pihak-pihak tertentu yang memang mudah berburuk sangka, atau bahkan merasa bahagia jika sudah berhasil menjelek-jelekkan orang lain.

"Kami berdua merasa memiliki idealisme dan 'nice dream' tentang negara ini. Kami, sebagaimana rakyat Indonesia, ingin betul negeri ini terus berkembang menjadi negara yang maju, modern, adil dan makmur. Kami tahu perjalanan ke arah itu akan sangat panjang serta rintangan dan tantangannyapun amat berat. Tapi kami merasa yakin, dengan ikhtiar dan pertolongan Allah kita akan sampai pada Indonesia yang kita cita-citakan itu," ujar lulusan terbaik AKABRI tahun 1973 itu.

Buku "Jenderal Batak di Tanah Jawa" diluncurkan Sudi Silalahi pada Sabtu (16/7) malam di kediaman dinasnya di kawasan Jl Widya Chandra Jakarta, bertepatan dengan hari ulang tahunnya ke-62.

 

Sumber : antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES