Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

'Indonesia Jauh di Belakang dalam Penerapan Nilai Keislaman'

Ahad 17 Feb 2019 16:34 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Hasanul Rizqa

Penutupan Tanwir Muhammadiyah oleh wakil presiden Jusuf Kalla di Bengkulu, Ahad (17/2/2019).

Penutupan Tanwir Muhammadiyah oleh wakil presiden Jusuf Kalla di Bengkulu, Ahad (17/2/2019).

Foto: Republika/Wihdan
Menurut JK, kebanyakan orang Islam di Tanah Air kuat dalam ibadah dan akidah

REPUBLIKA.CO.ID, BENGKULU – Suatu negeri yang mayoritas Muslim belum tentu seluruh penduduknya mampu menerapkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu disampaikan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla.

Lebih lanjut, menurut dia, Indonesia masih kalah dengan negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim dari sisi penerapan nilai-nilai Islam, padahal penduduknya mayoritas Muslim.

Dia mengacu pada data penelitian sosial yang dilakukan Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University. Mereka meneliti, seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan sosial dan bernegara.

Tema penelitian itu adalah ”How Islamic are Islamic Countries?” Di dalamnya terungkap, negara yang paling menerapkan nilai keislaman justru yang penduduknya bukan mayoritas Muslim. Sebagai contoh, menurut riset itu, Selandia Baru menempati urutan pertama pada daftar negara yang paling islami di antara 208 negara.

“Indonesia jauh di belakang. Negara yang penduduk Islam yang terdekat yang terbaik menurut ukuran itu ya Malaysia, nomor 33. Saudi Arabia nomor 44, walaupun dia memperlakukan hukum Islam syariah yang keras. Indonesia nomor 140, jauh sekali,” kata Jusuf Kalla (JK) kepada hadirin saat menutup Sidang Tanwir Muhammadiyah di Kota Bengkulu, Bengkulu, Ahad (17/2).

JK memandang, persoalan ketauhidan dan ibadah pribadi memang penting dalam beragama Islam. Dia mengakui, aspek-aspek keagamaan di Indonesia saat ini makin menguat dari sisi ketauhidan dan ibadahnya. Hal itu tampak dari maraknya aktivitas keagamaan di tengah masyarakat akhir-akhir ini.

Namun, lanjut dia, nilai-nilai keislaman semestinya juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari seorang Muslim. JK lantas menyoroti hubungan antarsesama manusia atau muamalah. Hal itu, menurut dia, saat ini makin melemah di Indonesia.

"Kita kuat dalam ibadah dan akidah, tapi kita tidak kuat dalam tata kehidupan yang islami," ujar JK.

Karena itu, dia menekankan, muamalah di samping persoalan akidah dan ibadah supaya menjadi bagian penting dari dakwah. Sebab, Indonesia juga memiliki tanggung jawab moral untuk menerapkan prinsip-prinsip keislaman.

Terkait Sidang Tanwir Muhammadiyah, dia berharap, rekomendasi-rekomendasi yang dihasilkan dari perhelatan ini dapat benar-benar dilaksanakan, terutama dalam konteks penguatan dakwah Islam dan rasa kebangsaan di Tanah Air.

"Oleh karena itu, maka kehidupan bernegara, kehidupan bermasyarakat harus kita lebih tingkatkan lagi secara sosial. Memang, kalau muamalat, tentu kita mengerti sebuah hubungan manusia dalam interaksi sosial," ucap dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA