Friday, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Friday, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Perjuangan Muhammadiyah untuk Bangsa

Senin 22 Oct 2018 19:33 WIB

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Yusuf Assidiq

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedr Nashir.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedr Nashir.

Foto: Antara.
Muhammadiyah selama perjalanan sejarahnya sampai kapanpun selalu bersama Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Perjalanan sejarah Muhammadiyah dalam kehidupan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal melekat dengan nilai dan pandangan Islam yang berkemajuan. Pendiri Muhammadiyah sejak awal pergerakannya senantiasa berorientasi pada sikap dan gagasan yang berkemajuan. Sebab, Muhammadiyah sungguh-sungguh percaya bahwa Islam merupakan agama yang mengandung nilai-nilai kemajuan. 

‘’Islam adalah agama kemajuan (din al-hadlarah) yang diturunkan untuk mewujudkan kehidupan umat manusia yang tercerahkan dan membawa rahmat bagi semesta alam.  Muhammadiyah senantiasa berusaha untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan,’’ kata Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam perbincangan dengan Republika.co.id akhir pekan lalu.  

Haedar lantas memberikan bukti bahwa selama satu abad terlihat sekali karakter Muhammadiyah sebagai gerakan Islam  yang seluruh usahanya ditujukan untuk kemajuan semua umat manusia. Usaha-usaha yang dilakukan Muhammadiyah semuanya untuk program perdamaian, kemanusiaan, kemasyarakatan, serta berbuat kebajikan.

Hal ini lanjut dia merupakan aktualisasi dari spirit menghadirkan ajaran Islam sebagai “Din al-‘Amal wa Tanwir” yakni agama sebagai seperangkat perbuatan yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Spirit kemanusiaan tersebut juga dilandasi nilai ajaran Islam  sebagai “Din al-Salam” yaitu agama untuk perdamaian dan keselamatan hidup bersama.

Dalam konteks universal, Muhammadiyah menurut suami Siti Noordjanah Djohantini, berusaha untuk menghadirkan Islam sebagai “rahmatan lil-‘alamin”, yakni agama untuk kebaikan hidup seluruh umat manusia di alam semesta sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran Al-Karim yang artinya “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS  Al Anbiya: 107).

‘’Islam sebagai agama “rahmatan lil-‘alamin” bagi Muhammadiyah tidak dikumandangkan melalui kampanye slogan dan kata-kata, tetapi diwujudkan melalui usaha-usaha nyata yang memajukan kehidupan bersama. Inilah gerakan Muhammadiyah bagi semua,’’ tegasnya.

Kekuatan nasional

Lebih jauh, Haedar menjelaskan, Muhammadiyah sebagai kekuatan nasional sejak awal berdirinya pada 1912 telah berjuang dalam pergerakan kemerdekaan dan melalui para tokohnya terlibat aktif mendirikan Negara Republik Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, pada berbagai periode pemerintahan hingga periode reformasi, pengabdian Muhammadiyah terhadap bangsa dan negara terus berlanjut.

‘’Inilah bukti bahwa Muhammadiyah ikut “berkeringat” di dalam usaha-usaha memajukan kehidupan bangsa yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat.’’

Menurutnya, Muhammadiyah selama perjalanan sejarahnya sampai kapanpun selalu bersama Indonesia, bukan klaim-klaim cinta bangsa secara retorika dan komoditisasi citra, tetapi melalui usaha-usana nyata untuk kemajuan Indonesia. ‘’Karenanya tidak perlu ada yang mengklaim diri paling Indonesia, paling cinta-NKRI, paling merah-putih seraya memandang pihak lain seolah setengah-Indonesia,’’ pungkasnya.

Pengakuan keraton Yogyakarta

Kehadiran Muhammadiyah juga mendapat sambutan yang positif dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Setidaknya sejarah mencatat dukungan Kasultanan dalam berbagai aktivitas Persyarikatan Muhammadiyah seperti memberikan rekomendasi yang diberikan Sri Sultan Hamengku Buwono VII, sehingga Muhammadiyah mendapat Rechtspersoon (badan hukum) dari pemerintah Hindia Belanda.

Selain itu kehadiran Sri Sultan Hamengku Buwono VIII  pada peresmian gedung Madrasah Muallimin dan pemberian bantuan sebidang tanah dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk pendirian sekolah dasar menjadi bukti lain kedekatan tersebut. Yang menarik pula dalam beberapa kegiatan muktamar, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan X selalu hadir dan kemudian menerima pengurus yang terpilih.

Mantan ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengungkapkan bahwa tanpa mengurangi kontribusi yang lain, tulang punggung Islam yang menganut modernisasi Islam adalah NU dan Muhammadiyah. ‘’Tanpa mengurangi peran organisasi Islam yang lain,  Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap tegak dan berdiri hingga saat ini karena dua organisasi besar itu mendukung negara kesatuan,” ujar Mahfud.

Ia mengatakan berdirinya Indonesia di awal abad 20 didukung oleh berbagai organisasi masyarakat Islam yang besar seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah, Jamiat Kheir, serta bebagai organisasi kebangsaan yang tidak berbasis pada agama. Saat ini organisasi Islam yang besar di Indonesia yang eksistensinya sangat menonjol salah satunya adalah Muhammadiyah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA