Sabtu, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Sabtu, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Sarana Dakwah Muhammadiyah Perlu Disesuaikan

Jumat 01 Jun 2018 20:31 WIB

Rep: Eric Iskandarsjah Z/ Red: Budi Raharjo

Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Foto: Republika/Wahyu Suryana
Metode dakwah kini menggunakan sarana teknologi dan media sosial (medsos)

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Kemajuan teknologi telah merasuk kepada sebagian masyarakat Indonesia. Kemajuan itupun kemudian telah merubah cara berdakwah dan cara masyarakat mengikuti sebuah kajian, yakni menggunakan teknologi informasi dan media sosial.

Untuk menindak lanjuti perkembangan itu, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY menggelar pengajian Ramadhan di Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Pada kajian kali ini, tema yang diusung adalah Menyemai Dakwah Komunitas untuk Islam Berkemajuan.

Ketua PWM DIY, Gita Danu Pranata mengatakan, salah satu hal yang disoroti dalam kajian ini adalah terkait metode dakwah menggunakan sarana teknologi dan media sosial (Medsos). Meskipun ia mengakui bahwa saat ini teknologi telah berkembang sedemikian pesat, namun ia berharap Muhammadiyah dapat mengejar ketertinggalan itu.

"Semoga kajian ini dapat memberi inspirasi dan dapat mengubah metode dakwah menggunakan sarana tekonologi. Sehingga dakwah dapat tersampaikan secara lebih optimal," kata Gita saat memberi sambutan dalam pembukaan pengajian yang digelar pada Jumat (1/6).

Ia pun sempat mendapat kritik saat informasi dari Muhamadiyyah jarang menempati halaman pertama dalam pencarian google. Menanggapi hal itu, ia menilai urutan dalam Google disesuaikan berdasar frekuensi seberapa sering artikel itu dibaca oleh pengguna internet.

Oleh karena itu, lanjutnya, agar peringkatnya dapat meningkat maka perlu upaya untuk mendukung literasi Muhammadiyah dengan meningkatkan frekuensi keterbacaan atas artikel tersebut. Dengan kata lain, ia ingin mengajak agar seluruh warga Muhammadiyah dapat meningkatkan kebiasaaan untuk membua artikel Muhammadiyah yang tersebar di internet.

"Jika ingin unggul di Google maka perlu skenario. Kita juga harus meminimalisir untuk menyebar informasi yang tidak baik di media sosial agar informasi itu tidak menjadi informasi yang viral," ucapnya.

Terkait dengan kajian yang digelar dalam tiga hari itu, PWM DIY menghadirkan beberapa pembicara seperti Yuliatmono (Bupati Karanganyar), Ahmad Nurmandi (Ahli ilmu pemerintahan), Ghufron Mustakim (Wakil Direktur Sale Stock), dan Irfan Amalee (Founder Peace Generation). Berikutnya, Sutrisno (Penerima Penghargaan sbg Pengelola Panti Anak Yatim terbaik se-Indonesia, Nuryanto (Pegiat Pesantren Jalanan) dan Sri Puluh Handayani (Penerima Kemenkes Award TB-HIV 2018).

Ia berharap, para pedakwah yang mengikuti kajian ini dapat mengambil inspirasi dan menyesuaikan metode dakwah dengan teknologi yang ada sehingga pesan dakwah dapat tersampaikan secara lebih optimal.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES