Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Ketua ISNU: Ijtima Ulama tak Tepat Menilai Kecurangan Pemilu

Ahad 12 May 2019 05:24 WIB

Rep: Febryan. A/ Red: Teguh Firmansyah

Ali Masykur Musa

Ali Masykur Musa

Foto: Republika/Yoghi Ardhi
Setiap elemen bangsa Indonesia dinilai memiliki perannya masing-masing.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa menilai, Ijtima Ulama tidak berkompeten untuk menilai proses pemilu. Ia pun mempertanyakan Ijtima Ulama itu mewakili siapa.

"Kalau ada yang (patut) menilai kecurangan atau tidak, itu bukan Ijtima Ulama," kata Ali kepada wartawan, Sabtu (11/5).

Sebelumnya, Ijtima Ulama III yang diadakan pada tanggal 1 Mei 2019 menghasilkan beberapa rekomendasi. Beberapa di antaranya, Ijtima Ulama III menyimpulkan terjadi kecurangan dan kejahatan bersifat terstruktur, sistematis, dan masif dalam proses penyelenggaraan pemilu 2019. Selain itu, musyawarah ulama itu juga meminta KPU mendiskualifikasi  capres dan cawapres nomor urut 01.

Menurut Ali, setiap elemen dalam negara Indonesia itu sudah memiliki peran masing-masing. Seperti guru berperan mendidik muridnya, KPU berperan untuk menyelenggarakan pemilu, dan Bawaslu perannya untuk megawasi kalau ada pelanggaran. "Ulama itu perannya untuk menginspirasi umat," kata dia.

Ia juga mempertanyakan keterwakilan ulama dalam Ijtima Ulama III tersebut. Karena, kata dia, tidak semua ulama ikut serta. "Nahdatul Ulama bagaimana?," ucap Ali.

Pernyataan itu disampaikan Ali sebelum memulai acara Tasyakuran Bangsa dan Buka Bersama KH Ma'ruf Amin. Acara yang diadakan oleh PP ISNU itu dihelat di Pendopo Graha Alam Indah, Condet, Jakarta Timur. Ma'ruf Amin sendiri merupakan ketua dewan pembina ISNU.

Seperti diketahui, Ma'ruf Amin adalah cawapres yang mendampingi capres Joko Widodo dalam ajang Pemilihan Presiden 2019. Berdasarkan hasil hitung cepat KPU, untuk sementara pasangan nomor urut 01 itu memimpin dengan perolehan suara 56 persen. Data masuk sudah mencapai 76 persen. 

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA