Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

KPU Tunggu Kemenkeu Tetapkan Santuan Petugas KPPS Meninggal

Rabu 24 Apr 2019 19:48 WIB

Red: Andri Saubani

Warga mengangkat jenazah Sudirdjo, seorang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pemilu serentak 2019 yang meninggal dunia usai mendapatkan perawatan di rumah sakit untuk dimakamkan di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (23/4/2019).

Warga mengangkat jenazah Sudirdjo, seorang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pemilu serentak 2019 yang meninggal dunia usai mendapatkan perawatan di rumah sakit untuk dimakamkan di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (23/4/2019).

Foto: Antara/Risky Andrianto
Hingga hari ini, jumlah petugas KPPS yang meninggal mencapai 119 jiwa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) masih menunggu penetapan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terkait besaran biaya santunan untuk petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia. Hingga hari ini, jumlah petugas KPPS yang meninggal mencapai 119 jiwa.

"Kami masih menunggu Kementerian Keuangan yang akan menetapkan minggu ini," kata Sekretaris Jenderal KPU Arif Rahman Hakim, di Kantor KPU RI, Jakarta, Rabu.

Baca Juga

Arif menjelaskan, bahwa pihaknya akan melakukan pembayaran menggunakan anggaran yang sudah dialokasikan ke KPU RI. "Anggaran yang belum termanfaatkan kami optimalisasikan, kami usulkan direvisi untuk membayar santunan," ujarnya lagi.

KPU mengusulkan jumlah santunan bagi petugas KPPS yang meninggal dunia sekitar Rp 30 juta hingga Rp 36 juta. Sedangkan santunan untuk petugas KPPS yang terluka sebesar Rp 16 juta. Adapun, petugas KPPS yang cacat akan menerima santunan maksimal Rp 30 juta.

Sistem pembayaran santunan itu, lanjut Arief, akan dilakukan oleh KPU daerah. "Sudah disampaikan Dirjen Anggaran akan diupayakan minggu ini sudah bisa keluar. Mudah-mudahan," ujarnya lagi.

Merujuk data yang dihimpun KPU RI hingga Selasa (23/4) sore, jumlah petugas KPPS yang meninggal dunia mencapai 119 orang dan 548 orang sakit. Mereka tersebar di 25 provinsi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA