Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Beda Strategi Dua Kubu Respons Hasil Sementara Pemilu

Jumat 19 Apr 2019 18:46 WIB

Red: Nur Aini

Cetak Perdana Surat Suara Pemilu. Surat suara pemilihan Presiden Pemilu 2019 hasil cetakan perdana di Jakarta, Ahad (20/1/2019).

Cetak Perdana Surat Suara Pemilu. Surat suara pemilihan Presiden Pemilu 2019 hasil cetakan perdana di Jakarta, Ahad (20/1/2019).

Foto: Republika/ Wihdan
Beda respons hasil sementara pemilu bisa dilihat dari strategi marketing.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lain ladang lain belalang lain lubuk lain pula ikannya, barangkali peribahasa itulah yang paling sesuai untuk diterapkan pada capres Jokowi dan Prabowo saat ini. Keduanya berbeda sikap dalam merespons hasil sementara pemilu sekaligus hasil quick count dari berbagai lembaga survei yang telah dirilis.

Baca Juga

Tim sukses dan kubu keduanya pun berbeda jalan dalam memilih strategi dan sikap pasca-pencoblosan dan perhitungan suara sementara. Dari sisi strategi marketing dan branding kedua pasangan calon presiden memang memiliki alasan tersendiri untuk memilih jalan dan cara mereka dalam bersikap.

Dr. Dion Dewa Barata SE., MSM, akademisi dan praktisi di bidang pemasaran mengatakan baik Jokowi maupun Prabowo memilih cara yang berbeda dalam merespons hasil sementara Pemilu 2019.

Menurut dia, Jokowi yang cenderung menahan diri tidak mendeklarasikan diri sebagai pemenang padahal hasil sementara dan quick count berbagai lembaga survei yang terverifikasi KPU telah mengunggulkannya. Namun Jokowi tampak tenang-tenang saja karena sebagaimana brand yang sudah menguasai pasar maka akan cenderung pasif dan hanya reaktif jika diserang.

Hal itu, kata Dion, lebih karena posisinya sudah mayoritas dan sudah punya barrier-barrier yang susah ditembus pesaingnya misalnya reputasi, rekam jejak, hasil kerja, hingga sistem sehingga terlihat lebih santai dan hanya akan reaktif jika mendapat serangan langsung. Dion mengumpamakan cara Jokowi bersikap dalam strategi marketing layaknya perusahaan sebuah taksi terkenal di Jakarta yang cenderung diam saat masih bersaing dengan sesama perusahaan taksi konvensional.

Penguasa pangsa pasar itu tetap santai saja dan tidak melakukan banyak manuver pemasaran kecuali ada serangan.

Apakah strategi ini efektif? Menurut Dion bagi kubu 01 sangat efektif karena mereka telah menghabiskan berbulan-bulan masa kampanye yang menguras sumber daya habis-habisan. Maka kini saatnya bagi mereka melakukan konsolidasi sumber daya yang tersisa dan pasif menunggu reaksi pergerakan pesaingnya.

Bahkan jika kubu Jokowi tak berpolemik pun saat ini posisinya telah mayoritas menurut quick count sehingga jelas apa yang dilakukan Jokowi dari sisi pemasaran meliputi consolidate, wait, and respond.

Membangun kepercayaan

Dion yang juga Dekan Fakultas Humaniora dan Bisnis Universitas Pembangunan Jaya itu menilai hal yang berbeda dilakukan oleh Kubu Prabowo Subianto sebagai pesaing Jokowi. Kubu 02 itu harus mencari cara untuk bertarung hingga sampai ke garis finis atau sampai penetapan resmi dari KPU.

Dion berpendapat pihak 02 pun sudah mengerahkan habis-habisan sumber dayanya untuk berkampanye. Layaknya penantang maka sumber daya yang telah digunakan cenderung lebih besar karena mereka harus menciptakan awareness, mengedukasi, dan membangun kepercayaan publik dalam waktu singkat.

Pakar Business Model Canvas itu menilai angka dari quick count untuk Prabowo yang mampu menembus melewati angka 40 persen merupakan sebuah prestasi yang luar biasa. Fakta itu menunjukkan bahwa mesin kampanye kubu 02 berjalan dengan sangat efektif dan baik tapi untuk mengatasi masalah terbesar yakni barrier yang dipasang kubu 01 melalui reputasi dan rekam jejak sebagai privilege dari calon pejawat masih terlalu sulit untuk dilewati.

Dari sisi marketing, Dion menilai langkah yang dilakukan kubu Prabowo saat ini dengan mendeklarasikan kemenangan merupakan bentuk kampanye tersendiri untuk melakukan setting aturan baru. Dion menilai angle ini sebagai cara paling aman karena tidak harus berhadapan langsung dengan kubu 01 karena sumber daya yang kemungkinan sudah semakin menipis.

Selama ini aturan atau kebiasaan yang dianut masyarakat yakni jika unggul pada quick count maka real count juga kemungkinan serupa. Dengan angka persentase di dalamnya juga menjadi patokan kemenangan.

Dion berpendapat hal itu yang ingin disetting ulang dengan memunculkan istilah real count dan legilimate.

Kubu 02, kata Dion, menyasar real count yang dianggapnya bisa menjadi instrumen buying some time dengan beberapa kali dimunculkan narasi kecurangan pencoblosan yang digunakan untuk membangun pesan bahwa kubu 02 adalah korban.  Dion menilai strategi inilah yang paling masuk akal dilakukan oleh kubu 02 untuk meminimalisasi dampak negatif dari pengumuman hasil quick count yang tidak menguntungkan mereka. Ia memprediksikan bukan tidak mungkin nanti kedua kubu baik 01 maupun 02 akhirnya akan mencari jalan tengah yang menjadi titik keseimbangan baru.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA