Wednesday, 16 Syawwal 1440 / 19 June 2019

Wednesday, 16 Syawwal 1440 / 19 June 2019

Pengamat Sebut Dua Hal Ini yang Gerus Suara PPP

Jumat 19 Apr 2019 14:49 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Ratna Puspita

Direktur Riset Populi Center, Usep S Ahyar.

Direktur Riset Populi Center, Usep S Ahyar.

Foto: Republika/Mimi Kartika
Dugaan korupsi yang menjerat Romy dan konflik internal partai yang berkepanjangan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Riset Populi Center Usep S Ahyar menyebutkan dua faktor yang menggerus suara PPP pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Dua hal tersebut, yakni dugaan kasus korupsi yang menjerat mantan ketua umum PPP Romahurmuzy (Romy) dan konflik internal partai.

“Banyak konflik di dalamnya yang tidak kunjung selesai sampai hari ini, ada dualisme, yang satu diakui sah yang satu enggak. Saya kira ini mempengaruhi konsolidasi di internal juga dan besar pengaruhnya terhadap perolehan suara di bawah,” kata Usep dalam sambungan telepon dengan Republika.co.id, Jumat (19/4).

Baca Juga

Ia mengatakan konflik internal yang berlangsung sejak 2014 silam tersebut menyebabkan beberapa kader potensi pindah sebagai calon legislatif partai lain. Kondisi ini diperparah dengan kasus operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK satu bulan menjelang pemilu 2019.

“Ini merepotkan internal mereka. Jadi, tidak konsen konsolidasi,” kata dia.

Kendati demikian, Usep menilai, keberhasilan PPP lolos parliamentary threshold dalam kondisi yang buruk seperti itu tetap harus disyukuri. Ia mengingatkan  berbagai lembaga survei nasional kerap menyatakan PPP terancam tak lolos ambang batas parlemen empat persen.

Menurut dia, keberhasilan PPP lolos ke parlemen periode mendatang tidak lepas dari kerja keras caleg yang kini masih duduk di DPR. Ia mengatakan, anggota DPR tentu memiliki instrumen yang baik untuk berkampanye kembali di dapilnya.

“Jadi saya kira yang menyelamatkan PPP maupun PAN itu anggota-anggota yang memang jadi caleg sekarang dan masih menjabat petahan di DPR,” kata dia.

Pada Pemilu 2014, PPP berhasil memperoleh 6,53 persen atau naik dibandingkan penyelenggaraan pesta demokrasi 10 tahun lalu dengan 5,32 persen. Akan tetapi, hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei menunjukkan penurunan perolehan suara nasional.

PPP masih akan lolos ke Senayan, tetapi perolehan suaranya turun di bawah lima persen. Misalnya, Charta Politika menyatakan PPP meraih 4,74 persen suara, sedangkan Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyebutkan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berada di posisi kesembilan dengan 4,30 persen suara.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA