Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Prabowo Deklarasi Kemenangan Untuk Ketiga Kali

Jumat 19 Apr 2019 05:45 WIB

Red:

abc news

abc news

Foto: abc news

Suhu politik di Indonesia belum juga menurun pasca pemilu presiden - pilpres 2019. Menyusul kedua kubu capres dan cawapres yang berlaga di Pemilu Presiden -Pilpres 2019 masih saling klaim kemenangan.

Prabowo tetap klaim menang:

  • Capres Prabowo Subianto deklarasikan kemenangan untuk ketiga kalinya dan mengklaim terjadi kecurangan di berbagai wilayah
  • Capres Joko Widodo mengklaim telah menerima ucapan selamat dari 22 tokoh pemimpin dunia
  • KPU minta kedua kubu tidak saling klaim menang dan sabar menunggu penghitungan suara yang akan berlangsung 35 hari

Kubu pasangan Capres dan cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno belum bersedia mengaku kalah, meski hitung cepat sejumlah lembaga survey telah memenangkan rivalnya pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Sehari pasca pemilu 2019, Prabowo kembali mendeklarasikan kemenangan kubunya pada Kamis (18/4/2019) untuk yang ketiga kalinya.

"Pada hari ini, saya Prabowo Subianto menyatakan bahwa saya dan saudara Sandiaga Salahudin Uno mendeklarasikan kemenangan sebagai Presiden dan wakil Presiden tahun 2019-2024 berdasarkan lebih dari 62% real count kami dan C1 yang telah kami rekapitulasi." kata Prabowo Subianto.

Deklarasi tersebut langsung disambut dengan pekik takbir oleh sejumlah pendukungnya yang hadir di kediaman Prabowo di jalan Kertanegara, Jakarta Selatan.

Berbeda dengan deklarasi kemenangan sebelumnya, kali ini cawapres Sandiaga Salahudin Uno turut mendampingi. Sandi yang biasa tampil ramah kepada awak media ini, Kamis sore memilih tutup mulut sepanjang deklarasi dan wajahnya tidak menunjukan raut ekspresi khasnya. sebaliknya Sandiaga terlihat murung dan tertekan.

"Kami akan jadi presiden dan wapres bagi seluruh rakyat Indonesia demi kejayaan dan kelestarian seluruh rakyat Indonesia dan NKRI kita yang kita cintai berdasarkan Pancasila dan UUD 45," kata Prabowo dengan bersemangat.

Dalam pidatonya, Prabowo menjelaskan pihaknya memutuskan mendeklarasikan kemenangan lebih awal tanpa menunggu penghitungan suara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) karena telah terjadi kecurangan yang bersifat massif.

"Telah terjadi usaha-usaha dengan berbagai ragam kecurangan yang terus terjadi di berbagai desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten dan kota di seluruh Indonesia." kata Prabowo.

Deklarasi ini disampaikan hanya selang beberapa menit setelah capres Joko Widodo menegaskan kembali posisinya sebagai pasangan capres cawapres yang diunggulkan menang dalam pilpres 2019 berdasarkan hasil hitung cepat dari 12 lembaga survey di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Hasil hitung cepat tersebut menyebutkan prosentase perolehan suara pasangan Jokowi-Amin diperkirakan sebesar 54,5% sementara Prabowo-Sandi sebesar 45,5%.

"Kita tahu bahwa Quick Count (QC) adalah cara penghitungan yang ilmiah dan dari pengalaman pemilu lalu akurasinya bisa mencapai 99%. Sehingga hampir sama dengan perhitungan Real Count KPU. Namun kita harus tetap sabar menunggu hasil penghitungan resmi KPU," kata Jokowi kepada pewarta.

Jokowi juga menegaskan kembali kemenangannya ini dengan mengaku telah menerima ucapan selamat dari 22 kepala negara dan pemerintahan dari berbagai negara.

"Tadi siang sampai sore kita telah menerima ucapan selamat dari PM Malaysia Mahathir Mohamad dan juga PM Singapura Lee Hsien Loong, dan juga Presiden Turki Erdogan dan juga 10 negara lainnya yang telah memberikan ucapan selamat atas suksesnya pesta demokrasi di negara kita," papar Jokowi.

"Beliau juga menyampaikan selamat kepada seluruh masyarakat Indonesia dan juga Jokowi dan KH Ma'ruf Amin atas keberhasilan Pemilu 17 April kemarin," tambah Jokowi.

Sementara itu Komisioner KPU Pramono Ubaid meminta semua pihak bersabar menunggu proses perhitungan suara oleh penyelenggara pemilu. KPU meminta kedua kubu pasangan calon presiden tidak saling klaim kemenangan.

"Kami berharap klaim kemenangan dilakukan setelah hasil resmi yang dikeluarkan oleh KPU," kata Pramono di Hotel Ritz Carlton, Rabu, 17 April 2019.

Persoalkan quick count

Hasil hitung cepat lembaga survey pasca pemilu 2019 ini menjadi sorotan, lantaran capres Prabowo Subianto dan pendukungnya menolak hasil hitung cepat itu. Prabowo pada deklarasi kemenangan pertama pada Rabu (17/4/2019) menyebut banyak lembaga survei telah menggiring opini publik kalau dirinya kalah di Pilpres 2019.

Selain itu lembaga survey juga dituding telah dibayar untuk melakukan kecurangan dengan mengelabui masyarakat melalui quick count untuk menentukan hasil real count.

Menanggapi tuduhan Capres Prabowo Subianto ini, jumpa pers pada Rabu (17/4/2019), Direktur Cyrus Network, Hasan Nasbi menegaskan lembaga survei yang ada di bawah Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) tidak pernah mengeluarkan hitung cepat (quick count) dengan data bohong.

Sebaliknya pihak yang membuat poling (pollster) bekerja secara profesional dan bersedia diaudit atas rilis survei yang dibuat. Ia bahkah balik menantang untuk saling membuka data survey Quick Count.

"Saya ingin tekankan bahwa kalau demokrasi mau jalan yang lebih benar ya harus sportif dengan mengangkat data-data yang bisa dibenarkan. Kita bersedia diaudit TPS hasilnya berapa. Apalagi ada yang ngaku 5.000 TPS itu kalau kita paksa hari ini pasti nggak akan bisa," tuturnya.

Hasan mengatakan Cyrus Network mengumumkan kemenangan Jokowi-Ma'ruf setelah data masuk sebanyak 87 persen. Pengumuman disampaikan karena dianggap tak akan ada perubahan suara yang signifikan.

"Kalau kita berani tantang dan hasil ini 87 persen nggak akan berubah banyak. Jadi angka ini mirip menyerupai hasil 90 persen. Sebenarnya kita mau umumkan nanti pas 90 persen tapi karena ada yang sok-sok klaim menang duluan maka kita ingin sampaikan ini, yaitu Jokowi-Ma'ruf Amin yang unggul dari (survei) kita," ujar Hasan.

Rekonsiliasi pasca pilpres 2019

Aksi saling klaim kemenangan di kedua kubu pasangan capres dan cawapres ini berpotensi menjegal segera terciptanya rekonsiliasi pasca pemilu 2019.

Tajamnya polarisasi di masyarakat serta kuatnya politik identitas yang digunakan selama kontestasi pilpres 2019, sejumlah tokoh menyerukan agar kedua pasangan capres dan cawapres yang berlaga di pilpres 2019 segera bertemu dan berkonsiliasi guna meredam ketegangan yang terjadi di kalangan pendukung di kedua kubu.

Apalagi kubu Prabowo Subianto menggaungkan pengerahan kekuatan massa atau 'people power' jika terjadi kecurangan.

Capres petahana, Joko Widodo menyambut seruan itu dan mengatakan persahatannya dengan dirinya ingin segera bertemu dengan sahabatnya Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

"Sudah sering saya sampaikan persahatan dan tali silaturahmi saya dan KH Ma'ruf Amin tidak akan putus dengan Pak Prabowo dan sandi.

"Tadi siang saya sudah mengirim seseorang agar dapat segera bertemu dengan beliau agar kita bisa berkomunikasi dan bertemu sehingga rakyat dapat melihat Pemilu sudah selesai, aman, lancar, damai dan tidak ada sesuatu apapun." kata Jokowi.

Sementara capres Prabowo meski tidak mengungkapkan keinginan untuk bertemu namun dalam pidato deklarasi kemenangannya ia menyerukan agar rakyat Indonesia segera saling mempererat persaudaraan. Prabowo bahkan mengutip penyataan Jokowi di acara debat terakhir.

"Seperti dikatakan oleh Pak Jokowi agar rantai persahabatan yang terputus segera disambung kembali, Sudah tentu saya dan saudara Sandiaga uno akan tetap bersahabat dengan Pak Jokowi dan Kyai Ma'ruf Amin dan semua dalam jajaran 01. Semua adalah saudara kita." kata Prabowo.

Namun seruan ini tampak baru sekedar kata-kata. Karena faktanya relawan Prabowo dari persaudaraan alumni (PA) 212 malah akan menggelar acara syukuran berupa 'zikir doa sujud kemenangan' untuk merayakan kemenangan pasangan 02, Prabowo Subianto - Sandiaga Salahuddin Uno usai Shalat Jumat (19/4'2019) besok.

Awalnya acara ini akan diselenggarakan di Monas yang diawali dengan aksi berjalan kaki dari Masjid Istiqlal ke Monas, dan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Namun acara di Monas ini dibatalkan dan diganti dengan berkumpul di kediaman Capres Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan.

Sebelumnya otoritas keamanan melarang aksi pawai kemenangan pemilu 2019 sampai pemenang pemilu 2019 resmi diumumkan KPU. Hal ini bertujuan agar dapat menjaga suasana kondusif saat Komisi Pemilihan Umum (KPU) melakukan penghitungan suara.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengimbau agar kubu mana pun untuk tidak memobilisasi massa, baik merayakan kemenangan maupun yang menyatakan ketidakpuasan terkait hasil pemilu. Dan polisi akan menindak tegas aksi pawai pasca pemungutan suara pemilu 2019.

Ikuti berita-berita menarik lainnya di situs ABC Indonesia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA