Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Ini Menurut TKD Mengapa Jokowi Kalah di Jabar

Kamis 18 Apr 2019 16:31 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Teguh Firmansyah

Sejumlah warga mencelupkan tinta ke jarinya di tempat pemungutan suara (TPS) bertemakan Kampoeng Pemilu Nusantara di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/4).

Sejumlah warga mencelupkan tinta ke jarinya di tempat pemungutan suara (TPS) bertemakan Kampoeng Pemilu Nusantara di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/4).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Persepsi pikiran warga Jabar dinilai tak ada perubahan dibandingkan 2014.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Hasi Pemilihan Presiden 2019 di Jawa Barat kembali mengulang Pilpres 2014 lalu. Jokowi kembali kalah oleh Prabowo Subianto dengan angka yang sama. Berdasarkan hitung cepat, Prabowo-Sandi unggul dikisaran 60 persen.

Baca Juga

Menurut Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jabar Dedi Mulyadi, kerja keras seluruh komponen pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin menjadi sia-sia karena persepsi pemilih tidak mengalami perubahan signifikan. 

“Faktor persepsi pikiran orang Jawa Barat nyaris tidak ada perubahan dengan 2014 dan hari ini,” ujar Dedi dalam konferensi pers di Bandung, Kamis (18/4).

Dedi mengaku, usaha timnya di lapangan padahal sudah sangat maksimal. Yakni, mulai dari kampanye terbuka, kampanye dari pintu ke pintu, dan sejumlah sosialisasi hasil pembangunan. Tapi, tidak cukup mengubah persepsi pemilih Jabar.  “Ikhtiar sudah sangat maksimal,” katanya.

Dedi menilai, politik identitas dan isu hoaks yang menerpa Jokowi terbukti ampuh bagi para pemilih untuk memilih Prabowo-Sandiaga Uno. “Jokowi benar, bahwa 7 juta warga Jabar termakan isu hoaks yang menimpa dirinya itu terbukti,” katanya.

Dedi mengatakan, urusan persepsi ini faktor paling kuat penyebab kekalahan Jokowi. Kendati banyak  warga yang menikmati kebijakan pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla.

“Program keluarga harapan yang diterima 1,7 juta warga Jabar yang artinya mereka menerima kebijakan Jokowi langsung diterima, tapi tidak memberikan efek tinggi pada Pak Jokowi,” katanya.

Menurut Dedi, rumor yang dikelola di media sosial jauh lebih mendominasi ini juga dikarenakan akses internet di Jabar yang sangat tinggi. “(Hoaks) ini sampai ke ujung-ujung kampung, media sosial memberikan efek,” katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA