Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Pemungutan Suara di TPS Apartemen Mediterania Ricuh

Rabu 17 Apr 2019 15:06 WIB

Rep: Flori Sidebang/ Red: Bayu Hermawan

Pemungutan suara ilustrasi

Pemungutan suara ilustrasi

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Kericuhan dipicu karena sekelompok orang datang dengan menggunakan atribut Pilpres.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemungutan suara di TPS-TPS yang ada di Apartemen Mediterania, Tanjung Barat, Jakarta Barat, diwarnai kericuhan. Kericuhan dipicu karena adanya sekelompok orang yang datang ke TPS dengan menggunakan atribut salah satu pasangan capres-cawapres.

Sebuah video yang beredar di Whatsapp dengan durasi 1 menit 37 detik, memperlihatkan terjadi adu mulut di sebuah tempat pemungutan suara (TPS).  Kanit Reskrim Polsek Tanjung Duren AKP Rensa Aktadivia membenarkan peristiwa dalam video itu.

Menurutnya, peristiwa itu terjadi akibat adanya sekelompok orang datang ke TPS 75-84 di Apartemen Mediterania, Tanjung Barat, Jakarta Barat dengan menggunakan atribut pasangan capres cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. "Jadi ada tujuh orang menggunakan atribut 02, pin garuda merah. Lalu, diminta keluar oleh pihak kubu 01, karena sebelumnya ada perjanjian tidak boleh membawa atribut masing-masing calon," ujar Rensa saat dikonfirmasi melalui telepon, Rabu, (17/4).

Rensa menyebut, tujuh orang yang menggunakan seragam Front Pembela Islam (FPI) tersebut tidak terima saat diminta keluar dan justru memilih bertahan di TPS itu. Sehingga, kata Rensa, terjadi cekcok. Rensa menambahkan, dua dari tujuh orang itu merupakan anak di bawah umur. Mereka mengaku tidak memiliki kartu tanda penduduk (KTP).

"Dari dua orang itu anak di bawah umur," ucapnya.

Ia juga menjelaskan, ketujuh orang itu bukan warga yang tinggal di Apartemen Mediterania. Melainkan warga sekitar yang tinggal di belakang apartemen tersebut.  Rensa menuturkan, ketegangan itu akhirnya bisa diredam pihak polisi. Ia memastikan, keadaan aman dan tidak terjadi keributan yang lebih besar.

Untuk diketahui, pada video yang beredar itu terlihat Kepala Bagian Pembinaan Operasional Direktorat Reserse Kriminal Umum, AKBP Ahmad Fanani tengah menegur tujuh orang tersebut. Pin garuda merah yang terpasang di dada pendukung Prabowo-Sandi itu pun dicopot Fanani.

"Kita manusia biasa, kita manusia beragama ini," kata Fanani dalam video itu.

"Ini komandannya. Kamu yang tadi salaman-salaman semua," ujar salah satu polisi kepada seorang pria yang mengenakan baju hitam dan topi.

Aparat polisi lainnya juga meminta ketujuh orang itu untuk tidak berbuat aneh. "Enggak usah aneh-aneh lah," ucapnya.

Selanjutnya, Fanani meminta ketujuh orang itu untuk memperlihatkan KTP. Namun, hanya lima orang yang bisa memperlihatkan kartu itu.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA