Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Mahyudin: Presiden Jangan Dibuat Bahan Lucu-lucuan

Selasa 12 Mar 2019 13:28 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Ratna Puspita

Wakil Ketua MPR Mahyudin  menyampaikan materi sosialisasi 4 pilar MPR RI di Kecamatan Waru, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Senin (11/3).

Wakil Ketua MPR Mahyudin menyampaikan materi sosialisasi 4 pilar MPR RI di Kecamatan Waru, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Senin (11/3).

Foto: dok. Humas MPR
Sebagai simbol negara, presiden tidak sepatutnya dijadikan bahan lucu-lucuan.

REPUBLIKA.CO.ID, TANAH GROGOT -- Wakil Ketua MPR Mahyudin meminta semua pihak untuk tidak menjadikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai baham bercandaan. Menurutnya sebagai simbol negara, presiden tidak sepatutnya dijadikan bahan lucu-lucuan. 

"Kemarin saya dikirimin teman saya, ada foto pak Jokowi pakai kebaya dan sanggul untuk lucu-lucuan. Saya bilang 'maksud Anda kirimi saya foto apa?',  'Enggak bang, mau lucu-lucuan aja'. 'Enggak bisa', saya bilang. Kalau mau lucu-lucuan banyak yang lain tapi jangam presiden," kisahnya di sela-sela penyampaian materi Sosialisasi 4 Pilar MPR di Tanah Grogot, Paser, Kalimantan Timur, Selasa (12/3).

Mahyudin beranggapan, adanya teknologi membuat manusia semakin berani mencaci maki seseorang. Orang cenderung bersembunyi di balik teknologi untuk menyerang presiden. 

"Kalau bukan kita yang menghormati presiden, siapa lagi? Urusan pemilu urusan nanti. Kalau Anda tidak cocok dengan Jokowi silakan jangan dipilih lagi. Sederhana itu hidup ini," ujarnya. 

Mahyudin juga menyamakan sosok presiden sebagai sosok ayah kandung. Ia menganalogikan, seorang anak pasti tidak akan rela jika ayahnya dirisak oleh orang lain. 

"Karena dia Presiden, anggap aja dia bapak kita, jangan bully. Saya kalau ada orang mem-bully bapak saya, pasti saya tempeleng. Presiden tetap orang tua kita," ujarnya.

Karena itu, tambahnya, penting bagi MPR untuk terus mensosialisasikan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologoi negara. Hal itu agar bangsa Indonesia tidak kehilangan jati dirinya sebagai bangsa.

"Kalau kita mendalami Pancasila yang mendalam dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka aman dunia ini," jelasnya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA