Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Jokowi: Fitnah Sudah dari Pintu ke Pintu, Kita Harus Respons

Rabu 27 Feb 2019 15:32 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Andri Saubani

Munas dan Kombes NU. Presiden RI Joko Widodo hadir di acara Munas dan Kombes NU di Pesantren Miftahul Huda Al Azhar, Banjar, Jawa Barat, Rabu, (27/2).

Munas dan Kombes NU. Presiden RI Joko Widodo hadir di acara Munas dan Kombes NU di Pesantren Miftahul Huda Al Azhar, Banjar, Jawa Barat, Rabu, (27/2).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Jokowi meminta bantuan warga NU agar mengklarifikasi fitnah terhadap dirinya.

REPUBLIKA.CO.ID, BANJAR -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyinggung soal hoaks yang menimpa dirinya. Dalam sambutan pembukaan Munas dan Konber NU di Banjar, Jawa Barat pada Rabu (27/2) siang, Jokowi mengklarifikasi sejumlah isu seperti kabar larangan azan dan legalisasi pernikahan sejenis bila dirinya, selaku capres nomor urut 01, memenangkan pilpres.

Jokowi mengajak warga NU untuk ikut menepis hoaks dan menyampaikan kebenaran yang terjadi kepada masyarakat. "Saya titip ini direspons dengan baik oleh NU. Terutama kalau ada fitnah yang sudah dari pintu ke pintu, rumah ke rumah. Kalau yang disampaikan ajakan kebaikan silakan nggak papa. Tapi kalau yang disampaikan adalah hal yang meresahkan ini harus direspons," jelas Jokowi di Banjar, Rabu (27/2).

Jokowi mempertanyakan hoaks yang disebar soal larangan azan dan legalisasi pernikahan sejenis. Menurutnya, kabar tersebut tidak masuk logika. Sayangnya, ujar Jokowi, pemerintah sempat melakukan survei soal hoaks dan masih ada sekitar 9 juta masyarakat Indonesia yang percaya kabar bohong semacam itu.

"Kita harus berani respons. Misalnya pemerintah akan larang azan. Logikanya masuk atau ngga masuk? Saya sudah bisik-bisik dengan Kiai Ma'ruf. Bagaimana mencegah ini," katanya.

Pemerintah, ujar Jokowi, khawatir bila didiamkan maka masyarakat akan termakan isu dan kabar bohong tentang dirinya. Apalagi, katanya, bila yang percaya ada 9 juta masyarakat.

"Kalau yang percaya 20-30 orang kita diamkan nggak apa-apa. Kalau sudah jutaan harus kita jelaskan. Ini kabar berbahaya bagi keutuhan berbangsa dan bernegara," jelas Jokowi.

Pernyataan Jokowi ini menyusul dugaan kampanye hitam yang terjadi di Karawang. Sebelumnya, beredar video sekelompok emak-emak melakukan kampanye dengan menfitnah Jokowi-Maruf.

Video itu diunggah oleh akun @citrawida5. Dalam video itu, dua orang emak-emak berbicara dalam bahasa Sunda mengimbau kepada seorang pria tua untuk tidak memilih pasangan Jokowi-Maruf. Sebab, ujar oknum tersebut, jika Jokowi terpilih diisukan akan ada larangan azan di masjid-masjid, larangan penggunaan hijab bagi perempuan, serta akan ada pelegalan nikah sesama jenis.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA