Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Pengamat: Jangan Saling Berbalas Hoaks di Kampanye Pilpres

Selasa 26 Feb 2019 20:46 WIB

Rep: Nawir Arsyad Akbar/ Red: Bayu Hermawan

Peneliti senior Pusat Penelitian Politik LIPI, Siti Zuhro  dalam sebuah diskusi di Sekretariat Nasional Prabowo-Sandi, Menteng,  Jakarta Pusat, Selasa (26/6).

Peneliti senior Pusat Penelitian Politik LIPI, Siti Zuhro dalam sebuah diskusi di Sekretariat Nasional Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (26/6).

Foto: Republika/Nawir Arsyad Akbar
Pengamat ingatkan dua kubu capres untuk tidak saling membalas hoaks dengan hoaks.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro mengingatkan kepada kedua kubu pasangan capres-cawapres untuk tidak saling berbalas hoaks di masa kampanye Pilpres 2019. Siti menilai, aksi saling berbalas hoaks bisa menimbulkan perpecahan di masyarakat.

"Hoaks dibalas dengan hoaks, tidak. Saya katakan, jangan. Jangan lakukan itu, karena ketidakbaikan kepada kita, tidak perlu dibalas ketidakbaikan," ujar Siti di Sekretariat Nasional Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (26/2).

Ia menghimbau kedua kubu, untuk membalas sesuatu yang buruk dengan sesuatu yang lebih baik. Karena ia tak ingin masyarakat menjadi saling benci hanya gara-gara kontestasi Pemilu lima tahunan ini. "Meski ini kontestasi atau kompetisi dalam pemilu, bukan berarti kita menjadi zalim mendadak, jadi orang zalim. Kalau pemilu kita ini menuju keadaban," ujar Siti.

Siti melanjutkan, biar masyarakat yang menilai siapa calon yang pantas dipilih di pilpres, tanpa harus melakukan kampanye yang tidak beradab. "Pemilu kita harus naik kelas, kita wujudkan dalam sikap politik kita masing-masing. Saya melihat pemilu ini merupakan pemilu paling 'riweh', karena dua pemilu digabungkan secara serentak," jelasnya.

Ia juga menginginkan, dalam debat selanjutnya pasangan calon presiden lebih memahami masalah yang menjadi tema debat. Karena, dalam debat pertama dan kedua masih terjadi kekeliruan data yang diungkapkan kedua paslon. "Kami usulkan agar kontestasi melalui debat ketiga jauh mencerahkan, edukatif, jauh dari kemungkinan sub-ordinasi," ujar perempuan kelahiran Blitar tersebut.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA