Sunday, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Sunday, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Hashim: Mustahil Prabowo Meninggalkan Pancasila

Kamis 21 Feb 2019 08:45 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Muhammad Hafil

Hashim Djojohadikusumo, adik capres Prabowo Subianto

Hashim Djojohadikusumo, adik capres Prabowo Subianto

Foto: VOA
Pernyataan Hashim ini sekaligus menjawab fitnah yang ditujukan kepada Prabowo.

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK -- Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim  Djojohadikusumo menegaskan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto adalah sosok yang sangat memegang kuat nilai-nilai Pancasila. Bahkan Prabowo menghabiskan lebih dari separuh usianya sebagai prajurit. Jadi, tidak mungkin dia meninggalkan Pancasila apalagi mendirikan negara khilafah.

Baca Juga

Pernyataan Hashim ini sekaligus menjawab fitnah yang ditujukan kepada Prabowo Subianto di tengah hiruk-pikuk pemilihan presiden 2019. Kedekatan Prabowo dengan kelompok Islam yang mendukungnya maju sebagai capres pilihan umat dianggap sebagai pintu masuk berdirinya negara khilafah.

"Keluarga kami adalah keluarga yang majemuk dan dan memegang kuat Pancasila yang terdiri dari berbagai agama. Sehingga mustahil Prabowo Subianto mau mendirikan negara khilafah," ujar Hashim, Kamis (21/2).

Hashim menjelaskan, kedekatan Prabowo dengan segala komponen anak bangsa ini adalah bertujuan untuk merangkul semua suku, agama, golongan, dan ras dalam upaya memperkuat nilai NKRI dan Pancasila. Karena, kata Hashim, kesenjangan sosial, ketidakadilan didalam masyarakat bisa digunakan oleh oknum-oknum tertentu untuk menghasut terjadinya disintegrasi bangsa. "Membenturkan yang kaya dan miskin," keluhnya.

Hashim juga kembali menegaskan bahwa Pancasila tidak hanya menyangkut kepercayaan seperti yang termaktub di sila pertama saja. Terdapat pula empat sila lainnya yang saling berkaitan dan sudah menjadi cita-cita luhur pendiri bangsa. Oleh karena itu, perlu mempertahankan pancasila sebagai ideologi dan perekat bangsa sehingga Indonesia tidak disintegrasi seperti Uni Soviet dan Yugoslavia.

"Perlu adanya pemahaman bahwa kondisi bangsa saat ini berada di ambang disintegrasi bila kesenjangan ekonomi, politik, hukum, dan sosial semakin lebar," tutup anak bungsu dari pasangan Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo dan Dora Sigar tersebut. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA