Sunday, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Sunday, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Ketua PSI Kritik Prabowo-Sandi

Sabtu 12 Jan 2019 07:54 WIB

Rep: Zuli Istiqomah/ Red: Ratna Puspita

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie memberikan keterangan pers terkait sikap partai pada Pemilihan Presiden 2019 di Jakarta, Sabtu (11/8).

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie memberikan keterangan pers terkait sikap partai pada Pemilihan Presiden 2019 di Jakarta, Sabtu (11/8).

Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Grace mengatakan Prabowo-Sandi melontarkan isu negatif yang tidak benar.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie meminta pasangan calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk tidak membuat kegaduhan. Ia mengatakan kegaduhan ini timbul karena kebohongan yang kerap dilontarkan pasangan tersebut.

Grace menilai baik Prabowo maupun Sandi sering melontarkan isu-isu negatif dengan maksud menjatuhkan calon presiden Joko Widodo. Namun, isu-isu itu hanyalah kebohongan belaka.

Baca Juga

Grace mengatakan partainya menyayangkan ucapan-ucapan ini tidak keluar dari akun media sosial abal-abal atau yang tidak jelas siapa orangnya. Ucapan-ucapan itu keluar dari mulut politisi yang seharusnya terhormat.

"Karena seharusnya beliau menyandang posisi calon presiden  atau calon wakil presiden. Buat kami ini kemunduran untuk proses demokrasi," kata Grace saat menggelar parat PSI di Trans Luxury Hotel Bandung, Kota Bandung, Jumat (11/1) malam.

Ia menilai seharusnya capres menunjukkan persaingan yang sehat lewat adu gagasan dan program. Bukan dengan mengumbar data-data bohong yang tidak sesuai fakta. Ia mengatakan hal ini mencederai proses demokrasi karena masyarakat menjadi dirugikan.

Ia menyebutkan kebohongan Prabowo tidak hanya sekali dua kali dilakukan. Ia mencatat banyak kebohongan yang dilakukannya selama berkampanye di depan masyarakat.

Di antaranya tuduhan selama lima tahun terakhir, kurang-lebih 50 persen rakyat Indonesia tambah miskin. Padahal, faktanya berdasarkan data BPS menunjukkan bahwa jumlah orang miskin pada Maret 2018 adalah 25,95 juta jiwa, atau 9,82 persen. Data ini justru menunjukkan jumlah terendah selama Indonesia merdeka.

"Pada Oktober 2018, Prabowo tiga kali berbohong ketika mengatakan 99 persen rakyat Indonesia hidup pas-pasan, bahkan sangat sulit. Padahal faktanya limapuluh dua juta orang atau dua puluh dua persen penduduk Indonesia masuk golongan kelas menengah. Klaim Prabowo tersebut bahkan sudah dibantah oleh Bank Dunia sendiri," tuturnya.

Tidak hanya itu, Prabowo juga melontarkan tuduhan palsu ketika menyebut bahwa Indeks ketimpangan ekonomi Indonesia 0,454. Padahal faktanya, per Maret 2018 gini ratio Indonesia berada pada angka 0,389.

"Akhir 2018, Calon Presiden 02 membuat gaduh ketika melemparkan tuduhan beracun bahwa selang cuci darah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dipakai hingga 40 kali. Tuduhan kosong, karena lagi-lagi tidak bisa dibuktikan," ujarnya.

Ia mengatakan Sandiaga Uno juga tak ketinggalan mengumbar kebohongan. Sandi mengatakan pemerintah seharusnya tidak berhutang untuk membangun infrastruktur.

Sandiaga mengklaim perusahaannya tidak berhutang samasekali ketika membangun Tol Cipali. Padahal, perusahaan Sandi berutang pada konsorsium bank. 

"Saya heran, bagaimana tokoh politik dengan enteng menyebar kebohongan berkali-kali, dan samasekali tidak menyesal," ucapnya.

Ia pun meminta cara-cara kebohongan tersebut tak lagi dilakukan oleh Prabowo-Sandi. Pemilu 2019 harus dijalankan dengan penuh kehormatan. Sebab, kegaduhan ini dianggapnya dapat mengancam persatuan bangsa.

"Tolong jangan rusak demokrasi kita dengan ucapan ucapan kebohongan karena tadi ilmu propaganda kalau kebohongan diucapkam berulang ulang terus menerus akan dianggap orang sebagai kebenaran," pintanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA