Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

KPU Janji Debat Capres 2019 Lebih Full Debat

Kamis 10 Jan 2019 16:23 WIB

Rep: Fauziah Mursid / Red: Ratna Puspita

Ketua KPU Arief Budiman (kanan)

Ketua KPU Arief Budiman (kanan)

Foto: Antara/Rivan Awal Lingga
KPU membantah jika debat capres 2019 ini dinilai hanya prosedural.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman memastikan interaksi debat antara pasangan calon presiden dan calon wakil presiden di debat capres 2019 akan lebih banyak dibandingkan debat-debat sebelumnya. Arief menyebut, dalam debat capres pertama 17 Januari mendatang, interaksi debat sudah dimulai sejak segmen kedua hingga segmen kelima.

"Debat ini akan sedikit berbeda dengan dulu. Sekarang debatnya jauh lebih terasa alur debatnya, sejak segmen kedua dan kelima itu sudah terasa debat," ujar Arief di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (10/1).

Ia mengungkap, setelah pasangan calon menyampaikan visi, misi dan program di segmen pertama, masing-masing calon sudah bisa saling menanggapi pertanyaan debat dari panelis sejak segmen kedua hingga segmen ketiga. Arief menjelaskan, saat moderator menyampaikan pertanyaan kepada salah satu pasangan calon, maka pasangan calon lawan dapat memberi tanggapan atas jawaban pasangan yang ditanya.

Kemudian, pasangan yang ditanya dapat memberi jawaban atas tanggapan pasangan yang tidak ditanyai moderator. Menurutnya, format tersebut berbeda dengan debat sebelumnya dimana pasangan calon baru bisa berdebat saat segmen bagian akhir.

"Jadi terjadi saling debat. Kalau dulu debat pada bagian akhir ini saja. Kalau sekarang justru sejak awal. Nah coba teman-teman supaya publik juga paham," kata Arief.

Selanjutnya, kata Arief, pada segmen keempat dan kelima, pasangan calon juga diberikan kesempatan saling melempar pertanyaan yang disiapkan pasangan calon secara tertutup.

Karena itu, ia membantah jika debat capres 2019 ini dinilai hanya prosedural semata. Menurutnya, pemberian kisi-kisi 20 pertanyaan kepada pasangan calon bukan untuk membocorkan untuk kemudian dihafalkan oleh pasangan calon tertentu tetapi untuk memperdalam pemahaman terkait materi debat mengangkut hukum HAM, korupsi dan terorisme.

"Karena mereka nggak tahu yang harus saya jawab itu pertanyaan yang mana. Jadi bukan kemudian diberikan lalu jawab. Itu tidak," kata Arief.

Ia juga menjabarkan dua kisi-kisi pertanyaan dari panelis debat juga dibagi ke beberapa tema hukum, HAM, korupsi, dan terorisme. Nantinya, setiap pasangan calon akan menerima pertanyaan masing-masing satu pertanyaan dari setiap tema.

"Masing-masing satu, jadi misalkan di segmen dua, tiga, empat, satu pertanyaan. Satu pertanyaan tentang apa itu, di sini bertanya menjawab ditanggapi. Gantian di sini bertanya menjawab, menanggapi," kata Arief.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA