Sunday, 21 Ramadhan 1440 / 26 May 2019

Sunday, 21 Ramadhan 1440 / 26 May 2019

Debat Pilpres Kurang Menarik karena tak Ada Spontanitas

Rabu 09 Jan 2019 04:51 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ratna Puspita

Debat capres-cawapres (Ilustrasi).

Debat capres-cawapres (Ilustrasi).

Foto: Dok Republika.co.id
'Tetapi, ya, sah-sah saja, boleh-boleh saja, agar tidak menimbulkan kecurigaan.'

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menilai, pemberian kisi-kisi pertanyaan sebelum debat berlangsung membuat acara debat tersebut menjadi kurang menarik. Sebab, tidak ada spontanitas capres-cawapres dalam menjawab pertanyaan panelis.

"Jadi enggak menarik. Pertanyaan debat harusnya spontan. Capres-cawapres cukup mengetahui temanya. Kalau soal HAM, hukum, ya, kuasai saja itu. Lebih ke tema lebih bagus. Tetapi karena KPU sudah menetapkan begitu, ya, ikuti saja. Tetapi, enggak menarik karena tidak spontan," kata dia kepada Republika.co.id, Selasa (8/1).

Ubedilah mengatakan, syarat yang harus betul-betul dijalankan bila pertanyaannya disampaikan di forum debat, yakni kerahasiaan pertanyaan tersebut sehingga tidak bocor ke siapa pun. Dalam kondisi ini, moderator maupun panelis harus mampu memegang rahasia pertanyaan itu.

"Tetapi kalau kemudian diberikan dulu pertanyaannya sebelum debat itu enggak asik debatnya, enggak spontan jawabannya karena sudah bocor duluan. Tetapi, ya, sah-sah saja, boleh-boleh saja, agar tidak menimbulkan kecurigaan," katanya.

Ubedilah juga menekankan pentingnya penyampaian visi-misi di awal sebelum debat berlangsung. Idealnya, menurut dia, visi-misi itu disampaikan di awal kemudian baru memulai perdebatan isu atau tematik. Tema ini diperdebatkan dalam rangka memenuhi visi-misi yang kandidat sampaikan.

Dengan demikian, lanjut Ubedilah, kerangka besar arah capres-cawapres memimpin negara itu terbaca. Akan tetapi kalau langsung pada isu, maka arah atau kerangka besar untuk mencapai tujuan besar negara itu tidak jelas dan tidak terbaca secara sistemik.

"Karena dari visi-misi dan program itu pada akhirnya akan bisa terlihat secara sistemik bagaimana capres-cawapres akan memimpin negara selama 5 tahun. Jadi bukan dari perdebatan per isu yang hanya mempertajam sejauh mana menguasai persoalan dari tiap isu," jelasnya.

Ubedilah menambahkan, debat itu bisa memengaruhi publik ketika perdebatannya berkualitas dan 'bergizi'. Debat yang berkualitas ditentukan oleh mekanismenya. Misal bagaimana panelis menyusun pertanyaan, dan bagaimana moderator memimpin perdebatan.

"Itu akan memberikan pengaruh pada elektabilitas. Tetapi kalau kemudian seluruh penyelenggara debat itu tidak mampu menghadirkan perdebatan yang berkulitas mungkin rakyat tidak akan ikut pemilu. Enggak menarik buat rakyat," ujarnya.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA