Saturday, 15 Sya'ban 1440 / 20 April 2019

Saturday, 15 Sya'ban 1440 / 20 April 2019

Optimisme Parpol Islam di NTB pada Pemilu 2019

Ahad 06 Jan 2019 23:10 WIB

Red: Andri Saubani

Partai Islam

Partai Islam

Pada Pemilu 2014, parpol Islam tidak masuk tiga besar dalam raihan suara terbanyak.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Muhammad Nursyamsi

Jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam tidak berkorelasi lurus dengan tingkat perolehan suara partai politik (parpol) yang memiliki idelogi Islam seperti PKB, PAN, PKS, PPP, dan PBB. Hal itu juga terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada pemilihan legislatif (pileg) 2014.

Berdasarkan data KPUD NTB, raihan suara terbanyak diperoleh Golkar dengan 333.282 suara, Demokrat dengan 318.713 suara, dan Gerindra dengan 263.621 suara. Tidak ada nama parpol Islam dalam tiga besar parpol di NTB.

PKS menjadi parpol Islam dengan capaian suara terbanyak pada Pileg 2014 di NTB dengan 253.870 suara, disusul PAN yang berada di posisi enam dengan 196.074, PKB di peringkat delapan dengan 182.320 suara dan PPP di peringkat sembilan dengan 172.421 suara. Sementara PBB hanya menduduki peringkat kedua terbawah dengan raihan 83.768 suara.

Direktur Lembaga Kajian Sosial dan Politik M16 Mataram Bambang Mei Finarwanto dalam perbincangan dengan Republika beberapa waktu lalu mengatakan, masyarakat NTB masih memiliki kecenderungan memilih berdasarkan faktor figur. Pada 2014, Demokrat banyak diuntungkan lantaran adanya figur Gubernur NTB periode 2008-2018 Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi yang merupakan tokoh karismatik yang sangat dihormati di NTB.

TGB yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdaltul Wathan (PBNW) merupakan sosok yang menjadi panutan bagi jamaah NW. Bambang menilai, kepindahan TGB dari Demokrat ke Golkar akan memberikan keuntungan bagi Golkar dan semakin memperkuat posisi Golkar menjadi parpol pemenang kembaki di NTB pada Pileg 2019.

"TGB ke Golkar pasti ada pengaruh pada massa NW di pilpres dan pileg nanti," ujar Bambang.

Selain Demokrat, pencapaian Gerindra di NTB yang menduduki peringkat ketiga pada Pileg 2014 juga tidak lepas dari figur Prabowo Subianto. Kemenangan telak pasangan Prabowo-Hatta dengan meraih suara sebanyak 1.844.178 atau 72,45 persen, atau berbanding jauh dengan perolehan Jokowi-JK yang sebanyak 701.238 atau 27,54 persen mendongkrak raihan suara Gerindra di NTB.

Pengamat politik dari Universitas Mataram (Unram) Asrin mengatakan, kontestasi Pilpres dan Pileg 2019 di NTB akan jauh lebih ketat seiring bergabungnya TGB di kubu Jokowi-Ma'ruf. Kemenangan Golkar di NTB, kata Asrin, tidak lepas dari citra Golkar yang sudah begitu tertanam pada pikiran masyarakat. Meski tidak lagi mengandalkan figur tertentu, Golkar terbukti mampu bertahan dalam meraih suara di NTB hingga menjadi nomor satu pada 2014.

"Golkar ini sudah mampu bertahan dari berbagai macam dinamika, meski tidak mengandalkan figur, Golkar memiliki basis pemilih kuat pada tatanan birokrasi," kata Asrin.

Rendahnya capaian suara para parpol Islam di NTB tidak menyurutkan optimisme parpol Islam dalam menghadapi Pileg 2019. Ketua DPW PAN NTB Muazzim Akbar mengungkapkan keyakinannya PAN akan menjadi pemenang dalam Pileg 2019 di NTB.  Keyakinannya didasari dengan kerja-kerja partai yang masif dan juga sikap partainya yang mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga.

"InsyaAllah PAN optimistis jadi pemenang di NTB. Kader-kader PAN di NTB diuntungkan dengan adanya Prabowo-Sandiaga," ujar Muazzim.

Muazzim yang juga maju dalam Pileg untuk DPR RI melalui daerah pemilihan (dapil) II atau Pulau Lombok optimistis dukungan masyarakat NTB terhadap Prabowo akan menguntungkan PAN. Partai koalisi sendiri menargetkan Prabowo-Sandiaga menang di NTB dengan target minimal 75 persen.

"Melihat semangat masyarakat NTB kita semakin optimistis dan yakin bahwa Prabowo-Sandiaga menang dan PAN juga naik suaranya," kata Muazzim.

PAN, kata dia, tetap fokus pada isu-isu kondisi pemerintahan yang sekarang yang menilai kesenjangan semakin besar, harga-harga semakin mahal, kenaikan BBM, sulitnya lapangan kerja, hingga realiasi penanganan warga terdampak gempa dari pemerintah yang belum juga terselesaikan.

"Realisasi (rehabilitasi dan rekonstruksi) yang belum ada ini yang membuat masyarakat NTB itu semakin sulit dan semakin kompak untuk menyuarakan adanya perubahan," ucap Muazzim.

Muazzim menilai, proses pilpres dan pileg yang digelar bersamaan justru menguntungkan caleg PAN yang bertarung. Menurutnya, para caleg PAN mendapat manfaat dari kesukaan masyarakat NTB terhadap sosok Prabowo-Sandiaga.

"Kita kampanye caleg dan juga capres, dengan mengkampanyekan Prabowo-Sandiaga itu justru masyarakat lebih mudah menerimanya," ungkap Muazzim.

Keyakinan serupa disampaikan Ketua Komisi III sekaligus Fraksi PKS di DPRD NTB Johan Rosihan. Jika DPP PKS menargetkan meraih 12 persen suara secara nasional, DPW PKS, kata Johan, menargetkan suara PKS di NTB melebihi target suara PKS secara nasional.

"Kalau sekarang enam kursi di DPRD NTB, target kita 10 kursi nantinya, lalu dua kursi di pusat (DPR RI), dan di semua dapil kabupaten/kota, intinya semua dapil ada perwakilan," kata Johan.

Johan yang juga maju dalam pileg 2019 untuk DPR RI melalui dapil I Pulau Sumbawa menilai proses pilpres dan pileg yang digelar serentak tidak akan mengurangi fokus pada kerja-kerja partai. "Secara teknis tidak ada persoalan tapi memang kita harus lebih teliti dalam pengawasan," ucap Johan.

Johan menyampaikan, PKS menargetkan menjadi nomor satu pada pileg 2019. Target ini, Johan katakan, hal yang realistis berkaca pada Pilgub NTB 2018 yang memenangkan Zulkieflimansyah-Rohmi, pasangan yang diusung PKS dan Demokrat. Keberadaan Zul yang merupakan kader PKS sebagai Gubernur NTB, menurut Johan, akan semakin meningkatkan popularitas dan elektabilitas PKS di NTB.

"Target kita nomor satu, kalau ingin NTB gemilang, eksekutif kita menang, insyaAllah legislatif juga menang, target begitu. Tolak ukurnya kalau warga NTB kemarin dukung Zul-Rohmi, harapan kita pada pileg dukung PKS," lanjut Johan.

Johan menambahkan, militansi kader menjadi alasan dirinya untuk yakin PKS akan mampu meraih suara terbanyak di NTB. Johan menyebutkan, Presiden PKS telah menginstruksikan setiap kader untuk menjadi tim sukses salah satu caleg PKS. Pola-pola seperti ini, kata Johan, akan efektif dalam kerja partai mendulang suara terbanyak di NTB.

"Secara struktur kita solid, jadi kita kampanyekan caleg dan capres secara bersamaan," kata Johan menambahkan.

Data raihan suara partai politik pada Pemilu 2014:

1. Golkar: 333 282

2. Demokrat: 318.713

3. Gerindra: 263.621

4. PKS: 253.870

5. Hanura: 224.410

6. PAN: 196.074

7. PDIP: 189.569

8. PKB: 182.320

9. PPP: 172.421

10. Nasdem:154.981

11. PBB: 83.768

12. PKPI: 41.460

Partisipasi: 76,94 persen

Tidak sah: 12,59 persen

Sumber: KPUD NTB

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA