Thursday, 18 Ramadhan 1440 / 23 May 2019

Thursday, 18 Ramadhan 1440 / 23 May 2019

Senator: Debat Capres Bermutu Dongkrak Partisipasi Pemilih

Kamis 03 Jan 2019 17:24 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Bayu Hermawan

Ketua Komite III DPD RI, Fahira Idris

Ketua Komite III DPD RI, Fahira Idris

Foto: Instagram Fahira Idris
Debat capres menjadi kesempatan dua paslon untuk merebut hati rakyat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Fahira Idris menyampaikan, debat publik bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) adalah puncak sosialisasi untuk menggerakkan hati rakyat Indonesia agar menunaikan hak pilihnya. Sementara bagi kedua pasang calon, debat publik adalah kesempatan 'emas' untuk meyakinkan publik bahwa merekalah yang paling layak memimpin negeri ini lima tahun ke depan.

"Saya meyakini, jika debat publik capres bermutu dan berkualitas baik dari sisi teknis maupun substansi, akan mampu mendongkrak tingkat partisipasi pemilih Pemilu 2019," ujar senator asal DKI Jakarta dalam pesan singkatnya, Kamis (3/1)

Oleh karena itu, kata Fahira, semua sisi yang disajikan dalam debat harus bermutu dan berkualitas, mulai dari format debat, kedalaman materi dan pertanyaan, dan kemampuan kedua pasang calon mengomunikasikan visi misi dan menjawab berbagai pertanyaan. Secara sederhana saat ini ada tiga tipikal pemilih.

"Pertama mereka yang sudah pasti menunaikan hak pilihnya dan sudah menentukan pasangan calon yang akan dicoblos," katanya.

Kedua, mereka yang berniat menunaikan hak pilih tetapi belum menentukan pasangan calon atau yang sudah memiliki pilihan tapi masih mempertimbangkan beberapa hal (pemilih mengambang atau swing voters). ketiga, lanjut Fahira, mereka yang sudah memutuskan tidak akan menunaikan hak pilihnya pada Pemilu 2019 dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

Menurut Fahira, jika dalam debat publik nanti, tema dan materi yang disajikan tajam, mendalam dan menyentuh persoalan rakyat, kemudian ditambah kemampuan mumpuni kedua pasangan calon menyelami persoalan dan memberikan jawaban yang bernas dan solutif, kemungkinan besar bisa membuat mereka yang sudah menentukan sikap tidak akan mencoblos, mengubah pandangan dan memutuskan untuk ke TPS menunaikan hak pilihnya. 

Tidak hanya itu, capres/cawapres yang mampu tampil prima dalam debat sangat mungkin mampu meraup suara swing voter’s yang berdasarkan beberapa survei persentasenya sangat signifikan dari total jumlah pemilih. Jadi, masih kata Fahira, debat pilpres nanti harus didesain sedemikian rupa. Hal itu agar menyentuh semua persoalan pelik yang sehari-hari dihadapi rakyat dan 'memaksa' pasangan calon memberikan jawaban yang bernas, dapat dipercaya, dan solutif. Rencananya, pada tanggal 17 Januari 2019 rangkain debat capres dan cawapres akan digelar oleh KPU.

"Saya berharap sebagai penyelenggara, KPU tidak hanya menjadikan debat publik ini sebagai pendidikan politik, tetapi juga memanfaatkannya untuk mendongkrak tingkat partisipasi Pemilu 2019," harap Fahira.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA