Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Survei: Narasi Ekonomi Belum Tarik Masyarakat Pilih Prabowo

Rabu 28 Nov 2018 00:52 WIB

Rep: Dian Erika Nugraheny/ Red: Ratna Puspita

Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno

Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno

Foto: Republika/Da'an Yahya
Prabowo-Sandiaga hanya mampu menahan laju elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun mengatakan narasi ekonomi yang diusung oleh pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno belum mampu meyakinkan masyarakat untuk memilih mereka. Prabowo-Sandiaga hanya mampu menahan laju elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf. 

Baca Juga

"Memang benar kalau kita lihat Prabowo-Sandiaga sudah berhasil menahan laju suara untuk Jokowi-Ma'ruf. Namun, mereka belum berhasil meyakinkan pemilih bahwa pejawat gagal, karena itu pilihlah saya," ungkap Rico kepada wartawan dalam rilis survei di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (26/11).

Dengan kata lain, Prabowo-Sandiaga baru mampu menyampaikan narasi soal kegagalan pemerintah. Menurut Rico, Prabowo-Sandiaga tidak melakukan intervensi apapun tentang hal ini, justru elektabilitas Jokowi-Ma'ruf semakin melesat. 

"Prabowo-Sandiaga jangan hanya mengamplifikasi, artinya tim jangan membuka kenyataan itu jadi isu ekonomi, dengan bilang harga tempe mahal, harga telur mahal, tarif dasar listrik naik. Tapi sebaiknya disampaikan kalau anda pilih saya, ini yang akan saya lakukan supaya harga-harga ini bisa turun. Publik melihat mereka belum punya solusi," tegas Rico. 

Namun, dalam menyampaikan solusi, Prabowo diminta untuk menggunakan simbol yang mudah dipahami masyarakat. Rico mencontohkan Prabowo biasanya menyebut kata neoliberalisme. 

Menurut dia, istilah itu susah dipahami umum. "Prabowo harus mampu menterjemahkan janji-janjinya dalam bahasa yang lebih ringan," tambah Rico. 

Berdasarkan survei terbaru Median yang dilakukan pada 4-16 November 2018, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf tercatat sebesar 47,7 persen. Sementara itu, elektabilitas Prabowo-Sandiaga tercatat sebesar 35,5 persen. 

Dengan demikian, tercatat selisih elektabilitas keduanya sebesar 12,2 persen. Kemudian, ada sekitar 16,8 responden yang tidak menentukan pilihan atas kedua pasangan capres-cawapres itu. 

"Keunggulan yang dimiliki oleh Jokowi, adalah publik melihat dia sudah melakukan sesuatu. Namun, masih ada problem kehidupan sehari-hari yang tidak atau belum dirasakan solusinya oleh masyarakat," ujar Rico.

Keunggulan Jokowi merujuk kepada pembangunan infrastruktur yang sudah dilakukan selama empat tahun ini.  Namun, ternyata hal itu belum mampu mendongkrak elektabilitasnya yang masih berada di bawah 50 persen. 

"Kita harus lihat kenaikan harga-harga sudah sejak 2017. Dimulai dengan dimulai tarif listrik, kemudian harga bahan pokok. Nah yang dibutuhkan oleh Jokowi-Ma'ruf adalah bagaimana meyakinkan publik agar publik percaya bahwa ketika mereka nanti terpilih, harga kebutuhan pokok tidak naik, atau bisa tidak sih harga kebutuhan pokok turun ketika nanti Jokowi terpilih kembali," ungkap Rico.

Dia lantas menjabarkan temuan tentang elektabilitas Prabowo-Sandiaga yang masih di bawah Jokowi-Ma'ruf. Sebab, menurutnya, jika ada ketidakpuasan terhadap kinerja pejawat, biasanya elektabilitas oposisi cenderung menguat. 

"Jadi, masih terlihat kompetensi ekonomi Prabowo-Sandiaga yang belum terbangun sama sekali. Faktor kedua, gaya politik Prabowo yang keras masih menjadi sorotan," paparnya. 

Rico menyebut narasi ekonomi yang diungkapkan oleh Prabowo-Sandiaga baru sebatas mampu menahan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf. "Narasi ekonomi yang dibangun belum meyakinkan pemilih untuk memilih mereka," tambahnya. 

Survei median menggunakan sampel sebanyak kurang lebih 1.200 responden. Sampel survei diambil secara random dengan teknik multistage random sampling dan proporsional atas populasi provinsi serta gender. Kemudian margin of error' dalam survei ini tercatat sebesar kurang lebih 2,9 persen. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA