Wednesday, 17 Ramadhan 1440 / 22 May 2019

Wednesday, 17 Ramadhan 1440 / 22 May 2019

Selisih Elektabilitas Tipis, Median: 2 Capres Perlu Waspada

Selasa 27 Nov 2018 18:53 WIB

Rep: Muhammad Ikhwanuddin/ Red: Bayu Hermawan

Calon Wakil Presiden No Urut Satu, KH Ma'ruf Amin  memberikan sambutan  dalam acara pengukuhan  Relawan Milenial Jokowi Ma'ruf Amin (REMAJA) di Jakarta, Ahad (25/11).

Calon Wakil Presiden No Urut Satu, KH Ma'ruf Amin memberikan sambutan dalam acara pengukuhan Relawan Milenial Jokowi Ma'ruf Amin (REMAJA) di Jakarta, Ahad (25/11).

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf berada di 47,7 persen sementara Prabowo-Sandi 35 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga survei Median merilis hasil survei elektabilitas kedua pasang capres-cawapres terbarunya. Dalam hasil survei, kedua pasang memiliki jarak persentase yang tipis.

Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, menyampaikan, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf 47,7 persen dan Prabowo-Sandi 35 persen. Dengan selisih 12 persen kedua pasang calon diminta berhati-hati.

"Bicara pengalaman Pilpres (sebelumnya), selisih ini tidak terlalu tebal, artinya keunggulan ini masih bisa disamakan Prabowo kalau mereka ingin mengejar. Survei ini memberikan warning bagi kedua calon," katanya di Cikini, Selasa (27/11).

Di sisi lain, menurut Rico, untuk mempertahankan elektabilitasnya Jokowi harus menyelesaikan kebutuhan dasar seperti listrik dan sembako. Selain itu, isu seperti lapangan pekerjaan dan nilaintukar rupiah juga menjadi sorotan.

"Kekhawatiran nilai tukar rupiah terhadap dolar sama sekali belum pulih sejak Jokowi menjabat," ungkapnya.

Sementara, untuk Prabowo, ia meminta mantan Danjen Kopassus itu untuk membentuk figur yang mampu menyelesaikan persoalan ekonomi dengan lebih baik ketimbang petahana. "Persepsi atas kompetensi itu yang sampai sekarang belum mampu dikomunikasikan dengan baik oleh Prabowo terhadap publik," kata dia.

Baca juga: Median: Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Unggul, Belum 50 Persen

Berdasarkan survei terbaru Median yang dilakukan pada 4-16 November 2018, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf tercatat sebesar 47,7 persen. Sementara itu, elektabilitas Prabowo-Sandiaga tercatat sebesar 35,5 persen.

Dengan demikian, tercatat selisih elektabilitas keduanya sebesar 12,2 persen. Kemudian, ada sekitar 16,8 responden yang tidak menentukan pilihan atas kedua pasangan capres-cawapres itu.

"Keunggulan yang dimiliki oleh Jokowi adalah publik melihat dia sudah melakukan sesuatu. Namun, masih ada problem kehidupan sehari-hari yang tidak atau belum dirasakan solusinya oleh masyarakat," ujar Rico dalam paparan survei 'Elektabilitas Capres: Mampukah Jokowi Berlari Kencang dan Prabowo Mengejar?' di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (27/11).

Keunggulan Jokowi merujuk kepada pembangunan infrastruktur yang sudah dilakukan selama empat tahun ini.  Namun, ternyata hal itu belum mampu mendongkrak elektabilitasnya yang masih berada di bawah 50 persen.

"Kita harus lihat kenaikan harga-harga sudah sejak 2017. Dimulai dengan dimulai tarif listrik, kemudian harga bahan pokok. Nah yang dibutuhkan oleh Jokowi-Ma'ruf adalah bagaimana meyakinkan publik agar publik percaya bahwa ketika mereka nanti terpilih, harga kebutuhan pokok tidak naik atau bisa tidak sih harga kebutuhan pokok turun ketika nanti Jokowi terpilih kembali," ungkap Rico.

Dia lantas menjabarkan temuan tentang elektabilitas Prabowo-Sandiaga yang masih di bawah Jokowi-Ma'ruf. Sebab, menurutnya, jika ada ketidakpuasan terhadap kinerja pejawat, biasanya elektabilitas oposisi cenderung menguat.

"Jadi, masih terlihat kompetensi ekonomi Prabowo-Sandiaga yang belum terbangun sama sekali. Faktor kedua, gaya politik Prabowo yang keras masih menjadi sorotan," paparnya.

Rico menyebut narasi ekonomi yang diungkapkan oleh Prabowo-Sandiaga baru sebatas mampu menahan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf. "Narasi ekonomi yang dibangun belum meyakinkan pemilih untuk memilih mereka," tambahnya.

Survei median menggunakan sampel sebanyak kurang lebih 1.200 responden. Sampel survei diambil secara random dengan teknik multistage random sampling dan proporsional atas populasi provinsi serta gender. Kemudian, margin of error dalam survei ini tercatat sebesar kurang lebih 2,9 persen.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA