Wednesday, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 December 2018

Wednesday, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 December 2018

P3M tak Tahu Motif Kembali Diungkapnya Survei Masjid 2017

Rabu 21 Nov 2018 17:16 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Andri Saubani

Umat Islam saat beribadah di Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta (ilustrasi)

Umat Islam saat beribadah di Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta (ilustrasi)

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Terdapat 41 masjid yang terindikasi menyebarkan paham radikal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat Nahdlatul Ulama (P3M NU), Agus Muhammad, mengatakan, hasil survei yang pihaknya keluarkan tak perlu diperdebatkan lebih panjang lagi. Ia mengaku, tak tahu apa motif kembali diungkapnya hasil survei 2017 itu ke publik.

"Saya tidak tahu apa motifnya (mengutip penelitian P3M), tapi menurut saya ini tidak perlulah diperpanjang lagi jadi perdebatan," ungkap Agus saat dikonfirmasi, Rabu (21/11).

Menurutnya, temuan dari hasil survei P3M terkait adanya 41 masjid yang terpapar radikalisme bersifat indikatif ketimbang konklusi. Karena itu, menurutnya, tidak perlu hal tersebut digeneralisasi dan dijadikan fobia. Ia menjelaskan, memang ada kecenderungan radikalisme di masjid, tapi tidak semua masjid seperti itu.

"Belum melakukan penelitian (baru) yang dalam. Tapi, kami hanya memilih beberapa masjid itu, tapi ini tidak untuk publikasi," jelasnya.

Agus menerangkan, dalam hasil survei yang dilakukan pada September hingga Oktober 2017 lalu itu, masjid yang terpapar radikalisme tingkatnya belum masuk pada kategori setingkat ISIS ataupun kekerasan. Radikal di situ lebih ke dalam pengertian intoleransi.

"Tidak sampai kepada radikal dalam penggunaan kekerasan," ujar dia.

P3M, kata dia, meriset 100 masjid kementerian lembaga dan BUMN yang ada di Jakarta. Analisis yang dilakukan P3M hanya sebatas pada empat kali khutbah di 100 masjid yang ada di lokasi-lokasi tersebut dan hanya menganalisis isi khutbah, bukan khotibnya. Hasilnya, ada 41 masjid yang terindikasi radikal.

"Cuma BIN belakangan bilang ada 50 penceramah, itu dugaan saya mereka mungkin hasil pemetaan pendalaman sendiri," tutur dia.

Sebelumnya, Staf Khusus Kepala BIN Arief Tugiman mengungkapkan, ada 41 masjid yang terpapar paham radikalisme. Hal ini dia sampaikan dalam diskusi Peran Ormas Islam Dalam NKRI di Kantor Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), Sabtu (17/11) lalu.

Arief menjelaskan, 41 masjid itu terdiri atas 11 masjid kementerian, 11 masjid di lembaga, dan 21 masjid BUMN. Dari data ini, Arief menjelaskan, ada tujuh masjid dengan paparan radikalisme kategori rendah, 17 masjid terpapar radikalisme kategori sedang, dan 17 masjid terpapar radikalisme kategori tinggi.

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menilai, pengumuman Badan Intelijen Negara (BIN) terkait ada 50 penceramah dengan isi khutbah radikal di 41 masjid di lingkungan kementerian/lembaga justru menimbulkan kegaduhan baru di masyarakat. Menurut Fadli, BIN tidak seharusnya mengungkap ke publik informasi itu.

"Saya kira, pengumuman-pengumuman seperti ini justru membuat kegaduhan baru. Karena kita tidak jelas kriteria-kriterianya seperti apa," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (21/11).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES