Rabu, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 Desember 2018

Rabu, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 Desember 2018

Ma'ruf Bantah Jika Menang Pilpres Posisinya Lalu Diisi Ahok

Selasa 20 Nov 2018 02:16 WIB

Red: Andri Saubani

Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin memberikan sambutan dan arahan saat acara ramah tamah di Batam, Kepulauan Riau, Kamis (15/11/2018).

Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin memberikan sambutan dan arahan saat acara ramah tamah di Batam, Kepulauan Riau, Kamis (15/11/2018).

Foto: Antara/MN Kanwa
Ma'ruf kemarin hadir pada peringatan Maulid Nabi di Ponpes Alfalah, Tangerang.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Cawapres Ma'ruf Amin membantah dirinya dijadikan alat bila terpilih dalam Pilpres 2019 nanti kemudian digantikan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Bantahan itu disampaikan Ma'ruf pada peringatan Maulid Nabi di Ponpes Alfalah, Desa Kresek, Kabupaten Tangerang, Senin (19/11).

"Itu pernyataan salah dan menyesatkan umat, belakangan ini memang sering bergulir isu demikian, ini harus diluruskan," kata Ma'ruf Amin di Tangerang, Banten, Senin.

Menurut dia, sebagai Rois Am PB NU dan Ketua Umum MUI, maka dirinya tidak pantas dijadikan alat untuk perjuangan merebut suara umat. Dia mengatakan, dirinya yakin tidak mungkin diperalat capres Jokowi karena pemilihan dirinya sudah melalui pertimbangan matang, dan dilontarkan pihak yang tidak bertanggung jawab tanpa bukti serta fakta.

Ma'ruf menambahkan dalam berpolitik bahwa harus santun dengan cara meniru nabi Muhammad yang sopan serta tidak galak. Sifat memaki itu harus dihindari maka perlu ada tekad para santri maupun kiai dengan penuh kesadaran sendiri untuk mencoblos, tanpa ada paksaan kepada pihak lain.

Ma'ruf merupakan putra asli dari Kresek, Tangerang, maka pada Pilpres 2019 diharuskan seluruh warga Banten untuk memilih dirinya yang berpasangan dengan Jokowi. Demikian pula para pendukung nomor urut 01 itu untuk dapat menghindari intimidasi, teror dan toleransi terhadap pihak lain.

Dalam berpolitik menurut Islam harus memahami toleransi dan dapat menerima perbedaan karena merupakan "lakum dinakum waliadin". Saat ini, katanya, beredar isu yang perlu diluruskan karena dianggap tidak pantas berpasangan dengan Jokowi akibat perbedaan usia yang terpaut jauh.

"Saya lebih muda dari PM Malaysia, Mahathir Muhammad usia 93 tahun, dan diakui ketika berjumpa di Kuala Lumpur beberapa waktu lalu," tuturnya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES