Jumat, 7 Rabiul Akhir 1440 / 14 Desember 2018

Jumat, 7 Rabiul Akhir 1440 / 14 Desember 2018

Eggi Sudjana Anggap Cara Berpolitik SBY tak Jelas

Senin 12 Nov 2018 00:54 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Hazliansyah

Eggi Sudjana saat hadir di KPU Jawa Barat, Ahad (26/11).

Eggi Sudjana saat hadir di KPU Jawa Barat, Ahad (26/11).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Eggi menganggap bahwa identitas diperlukan dalam berpolitik

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Eggi Sudjana tak sependapat dengan pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mengatakan bahwa politik identitas di Indonesia menguat pasca pilkada DKI 2017 lalu. Eggi justru menyebut pernyataan SBY tersebut menunjukkan cara berpolitik SBY yang tidak jelas.

"Saya tidak sependapat dengan SBY. Kalau ngikutin pendapat SBY, nggak jelas ya," kata Eggi di Jakarta, Ahad (11/11).

Eggi menuding bahwa sikap politik SBY kerap tidak tegas. Ia juga menyinggung ketidaktegasan sikap SBY di pemilu 2014 lalu.

"Dulu misalnya kalau 2014 SBY tegas pilih Prabowo, menang," ucapnya.

Ia menambahkan sikap tidak tegas tersebut menurutnya juga diperlihatkan sampai saat ini. Eggi mengaku tidak ambil pusing mengenai sikap SBY tersebut.

"Sekarang juga. Karena nggak terlalu jelas identitasnya," tuturnya.

Eggi menganggap bahwa identitas diperlukan dalam berpolitik.

Sebelumnya SBY menyebut politik di Indonesia saat ini telah mengalami perubahan. Menurutnya, perubahan paling nampak yaitu mengemukanya politik identitas atau politik yang terpengaruh dengan ideologi dan paham ekstrem.

Ia mengatakan, perubahan nampak jelas setelah Pilkada DKI 2017 lalu.

"Sejak berlangsungnya Pilkada jakarta 2017 lalu saya berani mengatakan bahwa politik kita telah berubah, berubah adalah makin mengemukanya politik identitas, atau politik sara dan politik yang sangat dipengaruhi oleh ideologi dan paham," ujar SBY saat memberi sambutan dalam pembekalan calon anggota legislatif (caleg) DPR RI Partai Demokrat di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu, (10/11).

SBY berharap kontestasi dalam Pemilu 2019 mendatang berlangsung damai dan demokratis. Meskipun terjadi kompetisi yang ketat dan konfrontatif, tidak membuat bangsa Indonesia terpecah.

"Inilah harapan kami, Demokrat tidak ingin kontestasi Pilpres dan Pileg tahun depan yang prosesnya sudah berlangsung sejak sekarang ini tidak menimbulkan perpecahan bangsa, tidak mengarah ke disintegrasi, tapi kerukunan dan persatuan bangsa kita. Menangis kita kalau itu terjadi," katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Ketua TKN Buka Kegiatan Kamis Kerja

Kamis , 13 Des 2018, 21:31 WIB