Minggu, 10 Rabiul Awwal 1440 / 18 November 2018

Minggu, 10 Rabiul Awwal 1440 / 18 November 2018

Pengamat Politik: Kasus HRS Menguntungkan Jokowi-Ma’aruf

Jumat 09 Nov 2018 06:28 WIB

Rep: Flori Sidebang / Red: Ratna Puspita

Habib Rizieq Shihab memberi keterangan kepada awak media di sela pemeriksaan di Markas Polda Jawa Barat, Senin (13/2/17)

Habib Rizieq Shihab memberi keterangan kepada awak media di sela pemeriksaan di Markas Polda Jawa Barat, Senin (13/2/17)

Foto: Mahmud Muhyidin
Pengamat menilai situasi ini membentuk citra negatif terhadap HRS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pengamat Politik dari Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo mengatakan, kasus pemasangan bendera kalimat tauhid di rumah kediaman Habib Rizieq Syihab di Arab Saudi, beberapa waktu lalu, secara tidak langsung menguntungkan pasangan calon capres-cawapres Joko Widodo-Kyai Ma’aruf Amin. Sebab, menurutnya, ruang gerak politik HRS akan makin sempit akibat berurusan dengan polisi Arab Saudi.

“Dengan kasus terbaru yang menimpa HRS ini bisa membuat ruang gerak politiknya semakin sempit dan memperburuk citranya,” kata Karyono dalam keterangan tertulisnya melalui pesan singkat kepada Republika, Kamis (8/11).

Baca Juga

Ia menyebutkan, sebelum kasus pemasangan bendera tersebut muncul, HRS kerap melontarkan pernyataan keras dan lantang dalam mengusung Syariat Islam. Hal ini seperti mengeluarkan pernyataan agar seluruh anggota FPI dan umat Islam memasang bendera bertuliskan kalimat tauhid di rumah masing-masing. 

Pernyataan ini disampaikan HRS dalam merespons kasus pembakaran bendera yang diduga milik HTI oleh anggota Banser pada saat peringatan Hari Santri Nasional di Garut, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. “Karenanya, terlepas apakah bendera yang terpasang di rumahnya (HRS) dilakukan pihak lain atau tidak, hal itu tidak terlalu penting karena publik sudah menyimpan rekam jejak HRS di dalam memori secara kolektif. Rekam jejak sang imam besar FPI ini seolah menjadi pembenaran atas kasus pemasangan bendera mirip ISIS di rumahnya di Arab Saudi,” paparnya.

Situasi ini, menurut Karyono, akan membentuk citra negatif terhadap HRS dan para pengikutnya. Selain itu, kasus yang sedang dialami HRS saat ini bisa berdampak negatif terhadap paslon capres-cawapres Prabowo-Sandiaga jika masih memosisikan HRS sebagai tokoh utama vote getter (orang yang memikat hati pemilih) dalam Pilpres 2019.

“Kondisi tersebut justru membuat elektabilitas paslon nomor urut satu akan semakin menguat. Setidaknya, pemilih yang masih ragu-ragu karena pengaruh isu agama bisa berpotensi semakin memantapkan dukungan ke paslon Jokowi-Ma’aruf,” tutup Karyono. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES