Minggu, 21 Ramadhan 1440 / 26 Mei 2019

Minggu, 21 Ramadhan 1440 / 26 Mei 2019

Gerindra Yakin Perebutan Kursi Wagub DKI tak Ganggu Pilpres

Rabu 31 Okt 2018 03:45 WIB

Rep: Farah Noersativa / Red: Dwi Murdaningsih

Politikus Gerindra M Taufik.

Politikus Gerindra M Taufik.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Tak semudah itu koalisi bisa bubar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta M Taufik meyakini, perebutan kursi wakil gubernur (Wagub) DKI Jakarta tak akan mengganggu iklim pemilihan presiden (Pilpres). Apalagi, iklim koalisi besar antara Gerindra dan juga PKS.

“Saya nggak yakin itu akan mengganggu. Kan DPP-nya juga bantah. PKS dan Gerindra partai besar. Masa partai besar karen begituan (perebutan kursi Wagub) bisa goyah. Saya kira enggak,” ujar Taufik di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (30/10).

Kekhawatiran akan runtuhnya koalisi Gerindra dan PKS sebelumnya diutarakan oleh Ketua Dewan Syariah Wilayah PKS DKI Jakarta Abdurrahman Suhaimi. Suhaimi menyebut, bila Gerindra tak memenuhi janjinya sendiri untuk menyerahkan hak kursi Wagub kepada PKS, dikhawatirkan koalisi Gerindra dan PKS akan bubar.

Sementara menurut Taufik, tak semudah itu koalisi bisa bubar. Bilapun terdapat pernyataan itu, dia menilai orang yang membuat pernyataan itu juga tak menghargai partainya sendiri juga.

“Kalau saya sih kalau ada orang buat pernyataan itu, menurut saya dia tidak menghargai partainya juga. Kan PKS partai besar, Gerindra partai besar. Kalau partai besar itu tidak akan goyah pada komitmen,” kata dia.

Taufik menerangkan, pihaknya telah melayangkan surat undangan untuk melakukan musyawarah kepada pihak DPW PKS DKI Jakarta. Menurutnya, mereka akan melakukan pertemuan itu pada Senin (5/11) di Kantor DPD DKI Jakarta, pada pukul 15.00.

Dia meyakini, pihak PKS akan memenuhi undangan itu untuk datang dan melakukan musyawarah. Namun, bilapun tak hadir, dia akan kembali melayangkan surat kedua untuk mengundang bermusyawarah lagi.

“Ya nggak apa-apa. Namanya juga mengajak musyawarah. Kalau dia nggak hadir ya sudah. Enggak boleh berhenti bermusyawarah. Kalau nggak hadir pertama, kita undang lagi yang kedua. Masa iya nggak hadir juga. Kalau masih belum hadir kita ajak lagi yang ketiga," kata dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA