Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Pidato Game of Thrones Jokowi Efektif Sampaikan Pesan

Jumat 12 Oct 2018 15:37 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Indira Rezkisari

Pleno Pertemuan IMF. Presiden Joko Widodo berbicara dalam sesi pleno Pertemuan Tahunan IMF - Bank Dunia Grup 2018 di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10).

Pleno Pertemuan IMF. Presiden Joko Widodo berbicara dalam sesi pleno Pertemuan Tahunan IMF - Bank Dunia Grup 2018 di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10).

Foto: Republika/ Wihdan
Pendengar diharap lebih mudah memahami lewat dari serial yang sudah mendunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN KIK) menanggapi pidato Presiden Joko Widodo yang mengutip serial Game of Thrones di ajang pertemuan tahunan Bank Dunia-IMF. Cara pidato semacam itu diyakini mampu merangkul para pemilih pemula dalam Pilpres 2019.

Baca Juga

Wakil Ketua TKN KIK, Abdul Kadir Karding, mengatakan pidato Jokowi bukan diarahkan oleh TKN KIK. Menurutnya, Presiden Jokowi beserta stafnya menyusun pidato sendiri. Pidato itu mengesankan Jokowi mudah merangkul kelompok pemuda.

"Oh iya, pasti kalau itu. Nggak usah diomongin. Pak Jokowi kan dalam banyak kesempatan, pernyataan maupun tindakan selalu simboliknya ciri khasnya milenial," katanya pada wartawan di Jakarta, Jumat (12/10).

Karding menilai pemilihan diksi dari serial Game of Thrones diharapkan memudahkan pendengar memahami maksud yang ingin disampaikan Jokowi. Dengan begitu, tujuan komunikasi yang hendak dicapai Jokowi akan lebih efektif. Terlebih, serial tersebut sudah terkenal di dunia.

"Itulah hebatnya Pak Jokowi untuk mengambil simbolisasi keadaan, jadi gampang diterima oleh peserta. Gampang diterima oleh masyarakat dunia," ujarnya.

Politikus PKB itu memandang penggunaan diksi dari serial Game of Thrones dianggap sudah tepat dalam menggambarkan situasi dunia terkini. Yaitu persaingan antar negara maju menyebabkan negara berkembang terhimpit. Padahal ada musuh bersama yang mesti dihadapi semua negara.

"Kita sibuk berantem, baik berantem terutama soal ekonomi, antara negara besar berantem, pasar rusak. Itu kita lupa bahwa ada juga hal penting yang tidak mendapatkan penanganan yang lebih serius, yaitu menurunnya ekosistem dengan perubahan iklim," jelasnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA