Wednesday, 21 Zulqaidah 1440 / 24 July 2019

Wednesday, 21 Zulqaidah 1440 / 24 July 2019

SMRC Jelaskan Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Capai 60 Persen

Ahad 07 Oct 2018 22:23 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Andri Saubani

Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan memaparkan Rilis Survei Nasional Elektabilitas Capres: Pengalaman Menjelang Hari H (2004-2019) di Jakarta, Ahad (7/10).

Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan memaparkan Rilis Survei Nasional Elektabilitas Capres: Pengalaman Menjelang Hari H (2004-2019) di Jakarta, Ahad (7/10).

Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Ada tiga faktor penyebab elektabilitas Jokowi-Ma'ruf tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hasil survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) menunjukkan elektabilitas pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin berada di angka 60,4 persen. Sementara pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno hanya meraih elektabilitas 29,8 persen.

Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan mengatakan, ada tiga faktor yang menyebabkan elektabilitas pasangan nomor urut 01 tinggi. Pertama, sebagian besar masyarakat menyatakan menerima kinerja presiden.

"Mereka puas atau cukup puas dengan kinerja presiden di berbagai bidang secara umum," kata dia di Kantor SMRC, Cikini, Jakarta Pusat, Ahad (7/10).

Berdasarkan survei SMRC, sebanyak 9,7 persen menyatakan sangat puas dengan kineja Jokowi selama menjabat sebagai presiden. Selain itu, 63,7 persen masyarakat menyatakan cukup puas.

Hanya sekitar 22,6 persen masyarakat yang menyatakan kurang puas dan 2,8 persen tidak puas sama sekali. Sementara itu, sebanyak 1,2 persen masyarakat tidak menjawab atau tidak tahu.

Djayadi melanjutkan, alasan kedua pendongkrak elektabilitas Jokowi-Ma'ruf adalah nilai positif evaluasi atas kemampuan Jokowi memimpin. "Sebagian besar masyarakat yakin dengan kemampuan jokowi memimpin bangsa," kata dia.

Survei SMRC menunjukkan, 13,3 persen masyarakat sangat yakin atas kemampuan Jokowi memimpin, sementara 58,1 persen merasa cukup yakin. Sedangkan, sebanyak 20,3 persen masyarakat menyatakan kurang yakin dan 2,9 persen tidak yakin sama sekali. Sisanya, 5,4 persen menyatakan tidak tahu atau.

Djayadi melanjutkan, alasan ketiga pendongkrak elektabilitas pejawat adalah situasi makro ekonomi, politik, penegakan hukum, dan keamanan, yang dievaluasi secara positif. "Karena itu untuk sementara masih lebih banyak yang mendukung Jokowi," kata dia.

Di sektor ekonomi, mayoritas masyarakat bahkan optimis keadaan setahun ke depan akan lebih baik. Berdasarkan survei SMRC, 48,2 persen masyarakat meyakini kondisi ekonomi Indonesia setahun ke depan akan lebih baik dibandingkan tahun ini. Sementara, 9,8 persen masyarakat yakin kondisi ekonomi akan jauh lebih baik.

Sedangkan, 0,7 persen menyatakan kondisi ekonomi akan jauh lebih buruk, dan 5,9 persen menyatakan akan lebih buruk. Hanya 18,7 persen masyarakat yang menyatakan kondisi ekonomi tak akan ada perubahan.

Survei SMRC dilakukan pada 7-14 September 2018 dengan metode multistage random sampling. Survei melibatkan 1.220 responden dari seluruh daerah pilih dengan margin of error kurang lebih 3,05 persen.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA