Minggu, 24 Zulhijjah 1440 / 25 Agustus 2019

Minggu, 24 Zulhijjah 1440 / 25 Agustus 2019

Pengamat: Paslon Capres-Cawapres Wajib Kurangi Gimmick

Kamis 20 Sep 2018 13:35 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution / Red: Ratna Puspita

Pemilu (ilustrasi).

Pemilu (ilustrasi).

Paslon dan koalisi perlu menanamkan komitmen untuk menciptakan tontonan kreatif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Lembaga survei Public Opinion & Policy Research (Populi) Center Usep Saiful Ahyar menyarankan kedua kubu pasangan calon presiden-calon wakil presiden untuk mengurangi gimmick. Salah satu gimmick yang muncul sebelum masa kampanye, yakni pernyataan cawapres Sandiaga Uno terkait tempe setipis kartu ATM yang viral di media sosial. 

“Sekali-kali ada gimmick tidak apa-apa, tetapi kalau terlalu sering itu lama-lama masyarakat akan bosan,” kata Usep saat dihubungi, Kamis (20/9).

Usep menerangkan Sandiaga melontarkan pernyataan tersebut untuk menjelaskan akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Namun, ia mengatakan, pernyataan tersebut justru kontraproduktif karena hanya memicu aksi saling balas gimmick antara kubu Prabowo Subianto-Sandiaga dan Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin. 

“Pernyataan semacam itu yang harus dikurangi ketika berada di depan publik,” kata Usep.

Ia mengatakan kedua kubu harus mengedepankan adu gagasan ketimbang sekada ledekan. Menurut dia, masa kampanye yang diisi dengan adu gagasan juga akan mendorong suasana Pemilu dan Pilpres 2019 yang ceria dan gembira.

photo

Farhat Abbas. (Republika/Mahmud Muhyidin)

Farhat dan Ahmad Dhani

Terkait komposisi, Usep mengingatkan, kedua kubu agar lebih dewasa ketika masa kampanye telah tiba. Hal ini mengingat ada dua sosok yang kerap melancarkan perang urat syaraf di media sosial di kedua kubu.

Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf memasukkan praktisi hukum Farhat Abbas sebagai bagian dari tim. Sementara di Badan Pemenangan Nasional (TKN) Prabowo-Sandi, ada musisi Ahmad Dhani menjadi juru kampanye nasional. 

Sejauh ini, Usep mengaku belum melihat keduanya menjadikan demokrasi sebagai alat untuk lebih maju. Ia mengatakan keduanya sekadar mencapai tujuan memenangkan paslon yang didukung. 

Tanpa adanya kedewasaan, ia menambahkan, bukan tidak mungkin akan membuat pandangan masyarakat terhadap paslon yang diusung menjadi negatif. “Seandainya mereka tampilkan cara-cara politik dahulu itu hanya akan menimbulkan stigma bahwa politik bosan dan urusannya orang tua,” kata dia. 

photo

Musisi Ahmad Dhani. (Republika/Mahmud Muhyidin)

Karena itu, ia menekankan, paslon dan koalisi perlu menanamkan komitmen untuk menciptakan tontonan yang kreatif serta perdebatan yang konstruktif. Apalagi, suasana Pilpres kali ini turut diwarnai dengan anak-anak muda yang memiliki pemikiran dan ide-ide inovatif. 

Bekal itu perlu dimaksimalkan untuk menghadirkan kreativitas kampanye yang sedap dipandang mata. Tujuannya, yakni untuk bisa merebut suara rakyat.

Dalam kreativitas pesan, ia menerangkan, tidak masalah jika sesekali ingin menggunakan kampanye negatif yang memuat kekurangan calon lawan. Namun, ia juga mengingatkan, jangan sampai kampanye negatif menjadi kampanye hitam.

Ia menerangkan kampanye hitam atau black campaign hanya berisi fitnah. Hal itu akan menodai demokrasi dan menambah stigma negatif sebagian masyarakat bahwa politik itu membosankan. 

Baca Juga: Farhat Abbas Dipolisikan karena 'Pilih Jokowi Masuk Surga' 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA