Monday, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

Monday, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

Ma’ruf: Saya Usung Arus Baru Ekonomi Indonesia

Rabu 19 Sep 2018 08:02 WIB

Red: Ratna Puspita

KH Ma'ruf Amin

KH Ma'ruf Amin

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Ekonomi baru harus melakukan kolaborasi kemitraan antara yang kuat dan yang lemah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bakal calon wakil presiden Ma’ruf Amin menjelaskan program ekonominya kepada ratusan calon anggota legislatif dari Perindo di Jakarta, Selasa (19/9). Ma’ruf mengklaim, ia akan mengusung arus baru ekonomi Indonesia.

“Karena arus lama melahirkan konglomerasi dengan harapan menetes ke bawah melalui trickle down effect, tetapi ternyata tidak menetes,” kata Ma'ruf pada acara penutupan pembekalan caleg Perindo.

Dia berharap arus ekonomi baru bisa menghilangkan disparitas, baik antara kaya maupun miskin, kuat dan lemah, antara daerah, dan antara produk lokal dan global. Arus baru ekonomi Indonesia yang diusungnya didasarkan pada sila kelima Pancasila, yakni ekonomi kerakyatan yang berkeadilan.

Dalam program ekonomi tersebut, kata Ma'ruf, untuk membangunkan kelompok ekonomi lemah. Namun, ia menambahkan, bukan dengan cara melemahkan golongan yang kuat, melainkan dengan menguatkan yang lemah.

"Bukan membenturkan yang lemah dengan yang kuat,” ujar dia.

Ia mengatakan, ekonomi arus baru ini melakukan kolaborasi kemitraan antara yang kuat dan yang lemah sehingga menjadi kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Kolaborasi itu dilakukan melalui kemitraan antara kelompok ekonomi kuat dan lemah. 

Selama ini, Presiden Jokowi telah berupaya menghilangkan kesenjangan antardaerah dengan berbagai upaya. Upaya-upaya tersebut, seperti membangun infrastruktur, menyamakan harga BBM Jakarta dengan Papua, membangun konektivitas antardaerah, dan menumbuhkan berbagai keunggulan daerah. 

"Maluku, misalnya, masyarakatnya miskin, tetapi potensi daerahnya besar. Dia dahulu tujuan mencari rempah-rempah, makanya Maluku nanti harus dibangun sebagai daerah kuat. Begitu pula Sumatra dan Kalimantan. Ini yang saya maksud menghilangkan disparitas," katanya menjelaskan.

Ia mencontohkan Sulawesi Selatan sebagai daerah penghasil kakao, mengekspornya ke Singapura. Di Singapura, kakao diolah sedikit menjadi cokelat dan memberikan nilai tambah yang besar.

"Besok diharap nilai tambah itu ada di Sulsel. Insya Allah, kalau disparitas ini kita hilangkan, Indonesia akan lebih sejahtera pada masa akan datang," ujarnya.

Semua upaya itu, menurut dia, harus ditopang dengan sumber daya manusia yang andal dan kompetitif sehingga bisa bersaing dengan negara lain. "Saya terinspirasi Asian Games,” kata dia.

Ia mengatakan, Indonesia pada Asian Games biasanya selalu berada luar peringkat 10 teratas. Karena itu, pemerintah hanya menargetkan 16 sampai 17 medali emas pada Asian Games 2018. 

“Akan tetapi, ketika kita mampu mendorong fighting spirit atlet, ternyata mereka hebat, menghasilkan lebih dari 30 medali,” ujar dia.

Semangat juang seperti itu, kata dia, yang harus ditumbuhkan kepada seluruh elemen bangsa dalam berbagai bidang, baik perekonomian, pendidikan, maupun sosial. Selain itu, dia juga menilai perlunya membersihkan landasan pembangunan dari kerikil-kerikil, misalnya konflik ideologis maupun konflik dalam politik.

Ia menekankan, negara harus aman untuk bisa sukses melakukan pembangunan.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA