Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

SBY Serukan Kader Demokrat tak Sebarkan Fitnah dan Hoaks

Selasa 18 Sep 2018 07:40 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Muhammad Hafil

Tips melawan hoax

Tips melawan hoax

Foto: dok. istimewa
SBY menyebut negara akan kembali diuji apakah bisa tetap tenang atau memanas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menyerukan kepada seluruh kader Partai Demokrat untuk tidak larut dalam perilaku saling memfitnah dan menyebar isu hoaks. Ia juga mengimbau agar politkus Partai Demokrat tidak masuk ke dalam politik identitas atau isu SARA yang bisa merusak persatuan.

“Jangan sampai kita ikut menyemaikan benih-benih perpecahan dan disintegrasi yang membahayakan masa depan bangsa kita,” kata SBY di Jakarta, Senin (17/9).

Menurut SBY, dalam setiap ajang kontestasi pemilihan presiden (Pilpres), narasi kampange negatif memang tak bisa dihindari. Hal itu pun juga terjadi di negara lain. Namun, hanya masyarakat Indonesia sendiri yang bisa menangkal fitnah dan isu hoaks yang menyesatkan masyarakat.

SBY turut menyinggung soal pemberitaan media asing Asia Sentinel yang menyebut dirinya berada di pusaran kasus Bank Century. Ia menilai, pemberitaan tersebut termasuk fitnah besar terhadap dirinya dan Partai Demokrat. SBY juga menyayangkan beberapa media massa dalam negeri untuk menyebarluaskan pemberitaan tersebut meski jauh dari logika.

Di sisi lain, presiden RI ke-6 itu menilai akan banyak godaan dan ujian yang dihadapi Partai Demokrat jelang waktu pemilihan. Negara akan kembali diuji apakah bisa tetap tenang atau ikut memanas akibat tingginya suhu politik. “Kita akan diuji apakah politik identitas yang melebihi takarannya akan dimainkan oleh para kandidat dan partai-partai politik peserta pemilu,” tutur dia.

SBY mengatakan, di negara manapun, selalu ada korelasi antara identitas dengan preferensi pemilihan dan politik. Namun, apabila status dan identitas melebihi kepatutannya dan secara membabi buta dijadikan ‘penentu’ untuk memilih seseorang ataupun partai politik tertentu, demokrasi Indonesia akan mundur jauh ke belakang.

Ia pun mengimbau agar Partai Demokrat di tengah suhu politik yang tinggi tidak mengorbankan semangat persatuan, persaudaraan, dan kerukunan hanya untuk suatu kemenangan. Sebab. Itu akan sangat membahayakan masa depan bangsa.

“Delapan bulan mendatang ini, kita semua akan diuji oleh sejarah. Siapa yang lulus dan siapa yang tidak lulus,” jelasnya. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA