Selasa, 14 Jumadil Akhir 1440 / 19 Februari 2019

Selasa, 14 Jumadil Akhir 1440 / 19 Februari 2019

Pakar: Pendukung Ahok Pasti Kecewa Jokowi Pilih Ma'ruf Amin

Sabtu 11 Agu 2018 21:33 WIB

Rep: Amri Amrullah/ Red: Andri Saubani

Sejumlah Ormas melakukan aksi unjuk rasa saat berlangsungnya sidang Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA) terkait kasus penistaan agama yang menjerat Ahok di depan Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jakarta, Senin (26/2).

Sejumlah Ormas melakukan aksi unjuk rasa saat berlangsungnya sidang Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA) terkait kasus penistaan agama yang menjerat Ahok di depan Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jakarta, Senin (26/2).

Foto: Antara/Muhammad Adimadja
Meski kecewa, pendukung Ahok dinilai tidak mungkin memilih Prabowo di Pilpres 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik dari Poltracking, Hanta Yudha menilai ada kekecewaan dari para pendukung Ahok (Ahokers). Mereka kecewa setelah munculnya nama Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden (cawapres) Jokowi, pada menit terakhir deklarasi setelah sempat nama Mahfud MD digadang-gadang.

Kekecewaan Ahokers ini dikarenakan Ma\'ruf Amin menjadi tokoh penting yang mengeluarkan rekomendasi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Rekomendasi ini menegaskan pernyataan Ahok yang mengaitkan Surat Almaidah 51 sebagai penistaan agama.

"Soal beberapa kalangan ada kekecewaan itu tidak bisa dihindari. Karena politik jalan tengah tadi, solusi hasil negosiasi. Misalnya di pihak Pak Jokowi ada catatan pendukung pak Ahok (Ahokers)," kata Hanta dalam diskusi Melodramatis Capres-Cawapres, di Jakarta, Sabtu (11/8).

Menurut dia, hal itu terjadi karena pilihannya terbatas. Tapi persoalannya kekecewaan Ahokers tetap tidak mungkin mereka akan memilih Prabowo.

"Pilihannya ada tiga," jelas Hanta.

 

Pertama Ahokers akan abstain atau golput tidak memilih. Kedua, Ahokers akan memilih calon lain, tapi hal ini menurut dia, tidak mungkin. Dan ketiga Ahokers akan tetap memilih Jokowi, meskipun dengan kekecewaan pada Ma'ruf Amin.

"Jadi jawaban saya ada dua kemungkinan, satu mereka memutuskan abstain. Kedua bisa jadi mereka tetap memilih Jokowi tapi tidak aktif di relawan atau bahkan tetap aktif, tergantung strategi pendekatannya," ungkap Hanta.

Pilihan kekecewaan ini, menurut dia, sama halnya dengan yang dirasakan kelompok yang masih berharap hasil ijtima' ulama atau Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres Prabowo. Di kubu Prabowo pun ada kekecewaan soal tidak diakomodirnya hasil ijtima' ulama dan AHY oleh Demokrat. Pilihannya mereka adalah abstain atau akan menerima.

"Jadi yang diperlukan sekarang di dua kubu adalah melakukan normalisasi," katanya.

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menerima sepenuhnya keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memilih KH Ma'ruf Amin. Ketua Umum PSI Grace Natalie mengungkapkan, sejak awal partainya akan mendukung penuh calon wakil presiden (cawapres) yang dipilih Jokowi.

"Apa pun keputusannya, kita menerima. Saya yakin beliau punya pertimbangan yang panjang, karena dia terus menyerap aspirasi dari berbagai kalangan," kata Grace, seusai melakukan pertemuan di restoran Plataran, Menteng, Jakarra Pusat, Kamis (9/8).

Menurut Grace, Jokowi tidak hanya mendengarkan suara partai politik. Lebih dari itu, Jokowi juga menerima masukan dari tokoh masyarakat.

Artinya, ia menambahkan, keputusan Jokowi memilih Ketua Umum MUI sebagai cawapres didasarkan pada banyak masukan. "Dan kita semua menerima, tadi tidak ada yang menyatakan keberatan," ujar Grace.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA