Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Pengamat: Pembahasan Cawapres Jokowi Lebih Alot dari Prabowo

Senin 06 Aug 2018 06:50 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Ratna Puspita

Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan dalam Rapat Umum Relawan Jokowi di Sentul Internasional Convention Center, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (4/8).

Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan dalam Rapat Umum Relawan Jokowi di Sentul Internasional Convention Center, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (4/8).

Foto: Antara/Arif Firmansyah
Jokowi harus berhadapan dengan PKB, Partai Golkar, dan Megawati Soekarnoputri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru Besar Ilmu Politik dari Universitas Indonesia (UI) Prof Maswadi Rauf menilai pembahasan calon wakil presiden baik di koalisi Joko Widodo maupun Prabowo Subianto masih alot. Itu juga yang membuat belum ada satu pasangan pun yang mendatar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) sejak hari kedua pendaftaran calon presiden dibuka.

Namun, Maswadi menilai penentuan koalisi Jokowi justru lebih sulit dibandingkan poros Prabowo. “Karena masing-masing partai itu itu sudah mengkampanyekan dirinya, seperti PKB itu sudah intensif sekali," ujar Maswadi saat dihubungi wartawan, Ahad (5/8).

Menurut Maswadi, Jokowi dihadapkan dengan PKB yang sudah jelas mengincar kursi cawapres. Bahkan, PKB sudah menggunakan kekuatan ulama dan santri untuk mendorong Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sebagai cawapres.

Begitu juga Partai Golkar yang juga terus mendorong Jokowi memilih Ketum Golkar Airlangga Hartarto untuk cawapres. Maswadi melanjutkan, belum lagi Jokowi juga harus mengikuti arahan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Justru ini berat bagi Jokowi dan lebih berat daripada kubu sebelah, apalagi partai koalisi Jokowi sudah terus mengkampanyekan Jokowi," ujar Maswadi.

Meski hal sama juga terjadi di kubu Prabowo, tetapi Maswadi menilai partai koalisi poros Prabowo tidak mengungkap keinginan posisi cawapres secara jelas.

"Hanya PKS dan Demokrat, tetapi keduanya belum gencar mengkampanyekan," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA