Senin, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

Senin, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

SBY Puji Peran PKS dalam Perpolitikan Nasional

Selasa 31 Jul 2018 06:53 WIB

Red: Bayu Hermawan

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
SBY mengatakan PKS mempunyai prinsis dan pandangan sejalan dengan Demokrat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memuji peran PKS dalam perpolitikan nasional Indonesia. SBY menilai sebagai partai politik berbasiskan agama, namun PKS menghormati dapat beriringan dengan sistem demokrasi di Indonesia.

"Banyak yang salah persepsi dengan PKS, padahal sebagai partai Islam, mereka menghormati demokrasi dan compatible dengan sistem di Indonesia," kata SBY usai pertemuannya dengan petinggi PKS di Jakarta, Senin (30/7).

SBY mengatakan prinsip dan pandangan PKS itu sejalan dengan dirinya dan Partai Demokrat yang tidak menginginkan tindakan radikal dari siapapun dan dari kelompok manapun. Menurutnya, jika kedepannya kedua parpol ditakdirkan berkoalisi bersama-sama dengan Partai Gerindra dan PAN, maka semangat keindonesiaan, kebhinekaan dan saling menghargai bisa terus dijaga.

"Ketika Ustad Salim menjadi Menteri Sosial, beliau memberikan bantuan tanpa membedakan suku, agama, ras dan antar-golongan karena prinsip kebangsaan dan kerakyatan harus dijaga dalam satu nafas," ujarnya.

SBY mengaku pertemuannya dengan Salim Assegaf itu membuatnya bernostalgia ketika dirinya menjadi presiden selama 10 tahun dan ketika dirinya menjadi capres di 2004 serta 2009. Dia masih ingat ketika tahun 2004 saat dirinya mencalonkan diri sebagau capres, PKS menjadi parpol pertama yang memberikan dukungan dan terulang ketika Pilpres 2009.

"Kami bernostalgia pimpin Indonesia, negara yang melakukan transformasi dan kemudian yang miliki keragaman baik dalam identitas dan harapan," ujarnya.

Dia mengatakan Demokrat memiliki prinsip, hal yang baik perlu dilanjutkan namun yang belum baik harus diperbaiki sehingga ketika Demokrat bersama tiga partai lainnya jadi berkoalisi maka perbaikan harus dilakukan. Hal itu menurut dia merupakan hakikat pembangunan dan pemerintahan sehingga masyarakat senang dan memegang teguh moralitas serta etika politik.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA