Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

SBY: Pak Jokowi Tulus Mengajak Demokrat Bergabung

Kamis 26 Jul 2018 05:30 WIB

Red: Bayu Hermawan

SBY Temui Zulkifli Hasan. Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (tengah) berjabat dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di kediaman, Jakarta, Rabu (25/7) malam.

SBY Temui Zulkifli Hasan. Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (tengah) berjabat dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di kediaman, Jakarta, Rabu (25/7) malam.

Foto: Republika/ Wihdan
SBY mengatakan tidak mudah bagi Demokrat bergabung dalam koalisi Jokowi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan dirinya merasakan ketulusan Presiden Joko Widodo mengajak Partai Demokrat bergabung dalam koalisi pemerintahan. Namun SBY mengakui, tak mudah bagi Demokrat bergabung dalam koalisi parpol pendukung Jokowi.

"Saya sampaikan, ada hambatan Demokrat untuk berada dalam koalisi. Sungguh saya merasakan ketulusan Pak Jokowi untuk mengajak Partai Demokrat, tapi saya mengetahui tanpa harus saya sampaikan sumbernya, memang tidak terbuka jalan Demokrat berada dalam koalisi beliau," ujar SBY, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (26/7) malam.

SBY mengatakan jika wartawan jeli dengan pernyataan yang disampaikan para pemimpin partai koalisi Jokowi di Bogor, isinya kurang lebih menyatakan tambahan partai koalisi harus disepakati oleh seluruh parpol koalisi pendukung Jokowi, maka hal itu bisa menunjukkan betapa tidak mudah Demokrat bergabung dalam koalisi Jokowi. "Kurang lebih (pernyataannya) kalau partai politik di sana, maksudnya kami-kami ini, gagal dan ingin bergabung ke Pak Jokowi, harus disepakati oleh semua partai koalisi. Saya ini orang tua, saya mengerti maksudnya," ujar SBY pula.

SBY mengatakan hal itu merupakan satu hal hambatan Demokrat bergabung, disamping adanya satu-dua informasi lain. Presiden RI keenam itu menegaskan menghormati Jokowi, namun jalan untuk berkoalisi tidak terbuka, sehingga dalam waktu yang tersisa, sebelum pendaftaran capres-cawapres dibuka, Demokrat harus menentukan jalan lain yakni berkomunikasi dengan partai koalisi di luar Jokowi.

"Undang-undang tidak memungkinkan partai untuk tidak mengusung capres. Kalau dulu boleh. Tapi sekarang bisa kehilangan hak di pemilu berikutnya. Kami pun sudah menyepakati sejak dulu untuk mengusung capres di Pilpres 2019," kata SBY.

Atas dasar itu, Demokrat melakukan penjajakan dengan Gerindra dan partai politik lain untuk membangun koalisi pilpres. "Itulah jawaban utuh saya. Sehingga kalau teman-teman dengar 'statement' bung Romi, Ketua Umum PPP, seolah-olah SBY tidak jadi koalisi dengan pak Jokowi lantaran cawapres tidak diwadahi, saya katakan salah, saya berharap bung Romi hati-hati mengeluarkan statement," kata SBY menambahkan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA