Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

KPK: Waspada Parpol Seperti Perusahaan Keluarga

Senin 23 July 2018 17:03 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil

Ketua KPK Agus Rahardjo (ketiga kiri), Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif (kedua kiri), Saut Situmorang (kiri) berbincang bersama anggota Komisi III DPR sebelum memulai Rapat Kerja (Raker) di Kompleks DPR, Jakarta, Senin (23/7).

Ketua KPK Agus Rahardjo (ketiga kiri), Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif (kedua kiri), Saut Situmorang (kiri) berbincang bersama anggota Komisi III DPR sebelum memulai Rapat Kerja (Raker) di Kompleks DPR, Jakarta, Senin (23/7).

Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Kaderisasi di dalam partai juga tak berjalan.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Wakil Ketua KPK Laode M Syarif menyebut ada partai politik (parpol) yang menjadi seperti sebuah perusahaan keluarga. Ini ia ungkap dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR di gedung parlemen, Senin (23/7), sebagai respons kepada Fraksi Partai Nasdem yang meminta KPK menelusuri potensi penyelewengan di parpol.

"Parpol yang mendeklarasikan sebagai partai modern pun seperti menjadi perusahaan keluarga. Saya pikir ini yang perlu kita waspadai bersama," ujar Laode.

Laode menambahkan, kaderisasi di dalam juga tak berjalan dan banyak kader juga yang kecewa terhadap partainya. Padahal, kader tersebut di antaranya ada yang sudah bekerja maksimal di awal, tapi tidak mendapat dukungan parpolnya.

"Terus soal pengelolaan uang partai, makanya dalam keuangan partai itu negara mengambil porsi yang lumayan supaya bisa diaudit oleh BPK," ungkap dia.

Sebelumnya dalam RDP tersebut, anggota Komisi III DPR Fraksi Partai Nasdem Akbar Faizal mengungkapkan, KPK perlu masuk lebih jauh ke dalam sistem internal parpol untuk membenahi kondisi di dalamnya, termasuk persoalan lemahnya rekrutmen kader parpol.

"Termasuk pengelolaan parpol saya rasa pimpinan KPK paham yang saya maksud. Terus kelemahan parpol dalam pendistribusian kader untuk jabatan-jabatan kadernya karena sayangnya itu melibatkan uang negara. Maka, saya dukung untuk lebih masuk," ucapnya.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES