Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Pengamat: Lawan Konkret Jokowi Baru Tagar #2019GantiPresiden

Jumat 20 July 2018 05:55 WIB

Red: Bayu Hermawan

Pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago

Pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago

Foto: Istimewa
Pengamat menilai nasib koalisi pendukung Prabowo atau poros ketiga masih belum jelas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, lawan konkret capres pejawat Jokowi saat ini baru tagar #2019GantiPresiden. Sebab, menurutnya, koalisi yang akan mengusung Prabowo sebagai capres ataupun poros ketiga masih belum jelas.

"Kalau jujur, lawan Jokowi baru hashtag 2019GantiPresiden. Belum ada yang konkret. Belum ada lawan tanding yang sebanding dengan Jokowi," kata Pangi, di Jakarta, Kamis (19/7).

Hingga sekarang, lanjut dia, tulang punggung poros ketiga dan poros oposisi Prabowo belum jelas ujung ceritanya. Prabowo dan SBY pun dipandang tidak lincah membangun koalisi. Menurutnya, yang terjadi saat ini, politik saling kunci-mengunci dan saling intip-mengintip. Publik masih menunggu apakah akan ada kejutan pada menit terakhir atau waktu penentuan atas munculnya poros baru dengan tokoh baru.

"Ini yang masih ditunggu. Jokowi juga belum berani mengumumkan cawapresnya. Karena kalau diumumkan jauh-jauh hari, paket ini bisa mati sebelum berkembang," katanya.

Baca juga: Wasekjen Golkar: Penantang Jokowi Kesulitan Konsolidasi

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji menilai, koalisi partai politik penantang poros Joko Widodo kesulitan untuk mengonsolidasikan. Sebab, hingga saat ini, koalisi poros Partai Gerindra, PAN, dan PKS belum sepakat mengajukan calon presiden maupun wakil presiden untuk Pemilihan Presiden 2019.

Ketiga partai sampai saat ini terus melakukan penjajakan koalisi antarpartai, bahkan belakangan bersama Partai Demokrat. "Ya, sebenarnya kita tidak berdoa yang buruk bagi penantang ya, tetapi memang sepertinya penantang kesulitan mengonsolidasikan diri," ujar Sarmuji di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (19/7).

Menurut Sarmuji, hal ini karena faktor semua partai politik menginginkan posisi calon wakil presiden sebagai syarat berkoalisi. Hal ini pun makin mengunci partai politik untuk sepakat berkoalisi. Sarmuji melanjutkan, hal ini tidak terjadi pada poros Joko Widodo yang di dalamnya terdapat banyak partai politik. Meskipun partai tetap berharap kadernya yang dipilih sebagai cawapres Jokowi, ia mengatakan, hal itu bukanlah bagian dari syarat berkoalisi.

"Koalisi Jokowi pengikatnya bukan cawapresnya siapa, tetapi pengikatnya visi yang sudah diimplementasikan oleh Pak Jokowi dan semua yakin visi itu benar dan sudah terlaksana dengan baik. Sehingga, jabatan cawapres itu bisa dirundingkan dengan baik," katanya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES