Minggu, 8 Zulhijjah 1439 / 19 Agustus 2018

Minggu, 8 Zulhijjah 1439 / 19 Agustus 2018

Tiga Nama di Kantong Jokowi dan Kejutan SBY-Prabowo

Selasa 17 Juli 2018 10:26 WIB

Red: Elba Damhuri

Ilustrasi Mencari Pemimpin Umat

Ilustrasi Mencari Pemimpin Umat

Foto: Republika/ Yasin Habibi
Bakal ada kejutan cawapres dari dua poros yang akan tampil pada Pilpres 2019.

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Dessy Suciati Saputri, Fauziah Mursid

Bakal calon presiden pejawat Joko Widodo (Jokowi) memberi petunjuk perihal nama-nama calon pendamping dalam pemilihan presiden 2019. Terdapat tiga nama yang dikonfirmasi, yaitu Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Haji Zainul Majdi (TGB), anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Mahfud MD, dan Ketua Umum Partai Golongan Karya Airlangga Hartarto.

Hal itu disampaikan Jokowi kepada awak media seusai menghadiri Kuliah Umum Akademi Bela Negara Nasdem di gedung ABN Nasdem, Pancoran, Jakarta, kemarin. TGB, Mahfud MD, dan Airlangga, terpantau turut menghadiri acara tersebut.

Saat itu, awak media menanyakan apakah para tokoh yang hadir masuk ke dalam daftar calon pendamping. "(Saya) masukkan, tapi harus mengerti, kantongnya saya itu tidak cuma satu," kata Jokowi.

Kemudian, awak media pun menanyakan apakah TGB juga merupakan salah satu nama yang dipertimbangkan. "Masuk, masuk kantong," ujar Jokowi.

Begitu pula nama Mahfud MD. Jokowi menilai Mahfud merupakan sosok yang bagus. Begitu juga Airlangga. Ia mengaku selalu bertemu dengan ketua umum partai untuk membahas cawapres pendamping nanti. "Hampir setiap hari, tapi banyaknya tertutup," ujar Jokowi.

Usai menghadiri kuliah umum ABN Nasdem, Jokowi sempat melakukan perbincangan dengan sejumlah ketua umum partai yang hadir dan para tokoh lainnya, termasuk TGB. Perbincangan dilakukan selama sekitar setengah jam. Kendati demikian, Jokowi enggan menjelaskan lebih lanjut terkait perbincangan dengan TGB.

"Bicara banyak. Nanti tanyakan langsung saja ke TGB, jangan ke saya," katanya.

Saat dikonfirmasi terpisah, TGB mengatakan tidak melakukan perbincangan khusus dengan Jokowi. Ia hanya mengaku sudah lama tidak berjumpa dengan mantan gubernur DKI Jakarta tersebut. "Menyampaikan mungkin (Jokowi) mau ke NTB," ujar TGB.

Terkait namanya yang selalu masuk dalam bursa cawapres, dia enggan berspekulasi. Menurut TGB, pemilihan bacawapres menjadi hak prerogatif bacapres, dalam hal ini Jokowi. Ia pun merasa masih banyak tokoh politik maupun nonpartai yang lebih senior dan layak mendampingi Jokowi.

Di antara tokoh-tokoh yang dianggap TGB memiliki kredibilitas baik adalah Mahfud MD maupun Airlangga. Selain keduanya, masih banyak tokoh bangsa Indonesia yang lebih hebat. Meski demikian, jika TGB diminta Jokowi untuk mendampingi, dia sudah siap dan akan bekerja semaksimal mungkin bagi negara.

Sementara, Mahfud mengaku tidak mengetahui apabila namanya menjadi salah satu cawapres Jokowi. Menurut dia, hanya Jokowi yang mengetahui hal tersebut.

"Saya sendiri tidak tahu. Saya kira yang tahu Pak Jokowi dan partai-partai. Kalau saya, sampai hari ini tidak tahu persis," kata Mahfud.

Mantan ketua Mahkamah Konstitusi itu menuturkan, siapa pun sosok bacawapres pendamping Jokowi tidak harus mengetahui penggodokan yang tengah dilakukan. Ia sendiri mengaku sering bertemu dengan Jokowi, tetapi tidak pernah membahas masalah pilpres.

Airlangga mengaku belum pernah berkomunikasi dengan Jokowi dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri terkait bacawapres. "Kita tunggu saja, kita tunggu saja," ujar Airlangga di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (9/7).

Ia pun mengaku belum mempertanyakan masalah bacawapres kepada PDIP maupun Jokowi. Menurut Airlangga, masalah cawapres merupakan keputusan penuh dari Jokowi. "Kami sudah menyerahkan kepada Bapak Presiden," kata dia.

Calon kejutan

Dinamika menjelang pembukaan pendaftaran pilpres 2019 pada 4 Agustus masih dinamis. Elite-elite partai politik terus melakukan lobi demi lobi sebelum memutuskan paket capres maupun cawapres.

Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani mengatakan, Gerindra akan mengajak Partai Demokrat bergabung untuk mendukung Prabowo Subianto dalam pilpres 2019. Hal itu akan disampaikan dalam pertemuan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Prabowo, Rabu (18/7).

Muzani mengatakan, pertemuan juga menindaklanjuti pertemuan dengan Prabowo dengan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan beberapa waktu lalu. Ada kemungkinan membahas opsi yang ditawarkan Demokrat untuk menyandingkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres Prabowo.

"Itu yang disampaikan Pak Syarief, menawarkan tentang kemungkinan Pak AHY bisa bersama Pak Prabowo, dan Pak Prabowo akan menyampaikan masalah ini kepada temen-teman partai koalisi. Tentu saja mudah-mudahan pembicaraan kedua beliau bisa produktif pada Rabu mendatang," ujar Muzani.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan menyebut akan ada kejutan dalam pertemuan SBY dan Prabowo. Pertemuan akan dilaksanakan di kediaman SBY di Mega Kuningan Timur, Jakarta Selatan, Senin (16/7).

"Tanggal 18 kami siapkan pertemuan antara SBY dengan Prabowo. Akan penuh kejutan," kata Hinca di Kompleks Parlemen Senayan, Senin.

Namun, dia enggan menjelaskan lebih lanjut terkait kejutan yang dimaksud tersebut, apakah kemungkinan Partai Demokrat akhirnya bergabung mendukung koalisi poros Prabowo. Hinca hanya mengiyakan bahwa pembahasan pertemuan tersebut berkaitan arah koalisi pilpres 2019.

Meski begitu, Hinca menyebut sikap Demokrat saat ini masih terbuka terhadap tiga opsi saat ditanyai kecenderungan dukungan Partai Demokrat antara dua koalisi Jokowi dengan Prabowo. "Posisi Demokrat tetap tiga, bisa ke Jokowi bisa ke Prabowo, bisa tidak Jokowi tidak Prabowo," kata Hinca. (Pengolah: muhammad iqbal)

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES