Senin, 9 Zulhijjah 1439 / 20 Agustus 2018

Senin, 9 Zulhijjah 1439 / 20 Agustus 2018

Pengamat: Nama Moeldoko Jangan Disepelekan

Selasa 17 Juli 2018 07:13 WIB

Red: Ratna Puspita

[Ilustrasi] Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (kanan) dan aktivis '98 mengepalkan tangan ketika menutup rembuk nasional aktivis '8 di JI Expo, Kemayoran, Jakarta, Sabtu (7/7).

[Ilustrasi] Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (kanan) dan aktivis '98 mengepalkan tangan ketika menutup rembuk nasional aktivis '8 di JI Expo, Kemayoran, Jakarta, Sabtu (7/7).

Foto: Antara/Wahyu Putro A
Moeldoko dianggap punya relasi istimewa dengan Jokowi, baik politik maupun personal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pengamat politik dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahuddin mengatakan, nama Moeldoko tidak bisa disepelekan sebagai salah satu kandidat cawapres mendampingi Joko Widodo (Jokowi). Dia menyebut, Moeldoko memiliki hubungan istimewa dengan Jokowi.

“Relasi mereka tidak terbatas pada pergaulan politik, tetapi juga bersifat personal,” ungkap Said saat dihubungi Republika.co.id, Senin (16/7).

Said mengatakan, buktinya, Moeldoko pernah diberi ‘predikat’ sebagai pihak keluarga bagi Jokowi saat acara pernikahan putri Jokowi, Kahiyang, dan Bobby. Hal itu, menurutnya, adalah sebuah keistimewaan yang diberikan oleh Jokowi kepada Moeldoko.

Selain itu, Said menyebut, keistimewaan Moeldoko bagi Jokowi juga tercermin pada perpindahan posisi Koordinator Staf Khusus Presiden (KSP) yang sebelumnya diisi oleh Teten Masduki.  Kelebihan lainnya, yakni Moeldoko dianggap mampu mengimbangi elektabilitas calon penantang Jokowi, yakni Prabowo Subianto. 

Sebab, Moeldoko memiliki latar belakang TNI yang sama dengan Prabowo Subianto. “Suara pemilih yang menyukai figur militer diharapkan tidak terkonsolidasi ke kubu Prabowo, tetapi dapat terbagi ke kubu pejawat jika Moeldoko yang menjadi cawapres Jokowi,” jelasnya.

 

Latar belakang militer Moeldoko, kata dia, juga dapat dijadikan sebagai perisai untuk menepis kritik dari sebagian masyarakat. Jokowi, menurutnya, dianggap tidak memiliki keberpihakan terhadap kedaulatan bangsa karena lebih pro-asing dan 'aseng'.

Namun, dia menekankan, Moeldoko bukan tanpa kekurangan. Bila dibandingkan dengan kandidat lain, penyebutan namanya sebagai cawapres masih belum nyaring. 

Bahkan, Moeldoko masih kalah populer dibandingkan mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo. “Bahkan, elektabilitas Moeldoko pun masih jauh dibawah mantan prajuritnya, AHY (Agus Harimurti Yudhoyono),” kata. 

Sumber : Farah Noersativa
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES