Sabtu, 8 Zulqaidah 1439 / 21 Juli 2018

Sabtu, 8 Zulqaidah 1439 / 21 Juli 2018

Anies Anggap Surat Mahfudz Siddiq Salah Alamat

Jumat 13 Juli 2018 03:37 WIB

Rep: Mas Alamil Huda/ Red: Muhammad Hafil

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan berpidato pada Malam Silaturrahim Idul Fitri 1439 H PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Balai Pertemuan Langen Palikrama, Jakarta, Selasa (11/7) malam.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan berpidato pada Malam Silaturrahim Idul Fitri 1439 H PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Balai Pertemuan Langen Palikrama, Jakarta, Selasa (11/7) malam.

Foto: Republika/Fuji Eka Permana
Mahfudz meminta agar Anies tak mencalonkan diri sebagai capres.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku telah membaca surat dari politikus PKS Mahfudz Siddiq yang ditujukan kepadanya. Surat yang berisi harapan agar Anies tak maju sebagai kontestan dalam Pilpres 2019 itu dianggap eks mendikbud tersebut salah alamat.

"Saya berharap surat ini dikirimkan ke partai-partai. Yang menyorong-nyorongkan nama itulah yang harus dikirimkan surat," kata dia di Jakarta, Kamis (12/7).

Anies mengaku telah membaca lengkap surat terbuka dari Mahfudz Siddiq yang mengatasnamakan warga DKI tersebut. Ia berterima kasih atas perhatian dari Mahfudz kepadanya. Anies menegaskan, saat ini dirinya fokus mengurus Jakarta.

"Tapi surat itu harusnya dikirimkan ke partai-partai karena partai-partailah yang membicarakan," ujar dia.

Dalam surat terbukanya yang ditujukan ke Anies Baswedan, Mahfudz berharap eks mendikbud itu menuntaskan tugasnya sebagai gubernur hingga masa jabatan selesai. Ia mengingatkan, proses pemilihan gubernur DKI pada tahun 2017-lah yang paling heboh, panas, dan menguras energi masyarakat Indonesia.

Berikut sebagian petikan surat Mahfud Siddiq ke Anies:

Dua bulan terakhir ini, saya kerap membaca dan menonton berita tentang sejumlah politisi dan pimpinan partai yang mendorong-dorong Bapak sebagai calon wakil presiden, dan bahkan sebagai calon presiden. Sebagai pribadi yang menilai Bapak sebagai sosok orang baik, tentu ikut bangga dan gembira. Namun berita-berita itu - yang mulai “memaksa” Bapak ikut berkomentar - juga menyisipkan rasa gelisah dan cemas dalam diri saya.

Sebagai warga asli Jakarta, saya mengalami kepemimpinan 11 Gubernur dan Plt Gubernur DKI Jakarta sejak tahun 1966. Dimulai era Ali Sadikin, Tjokropranolo, Soeprapto, Wiyogo, Soerjadi, Sutiyoso, Fauzi Bowo, Joko Widodo, Basuki CP, Djarot SH sampai Gubernur Anies Rasyid Baswedan.

Seingat dan sepengetahuan saya, proses pemilihan Gubernur pada tahun 2017-lah yang paling heboh, panas, dan menguras energi masyarakat Indonesia. Belum pernah saya menyaksikan begitu banyak doa dilantunkan di rumah, musala, masjid dan majlis taklim untuk terpilihnya Anies-Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.

Bahkan saya menyaksikan bagaimana pada hari Rabu subuh, tanggal 19 April 2017, begitu banyak warga Jakarta yang menghadiri salat subuh berjama’ah di masjid dan musholla. Mereka bermunajat untuk kemenangan Bapak, sebelum menuju TPS memastikan hak pilihnya.

Bapak Gubernur Yth. Kenapa terselip rasa gelisah dan cemas dalam diri saya? Karena setelah mengikuti hiruk-pikuk berita di media, muncul pertanyaan di kepala saya: “Akankah saya kehilangan sosok Anies Rasyid Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta yang telah saya pilih berama tiga jutaan warga lainnya?

Jika pemimpin itu diposisikan sebagai imam bagi ummat, “Apakah sang Imam akan meninggalkan ummatnya di fase awal perjalanan perjuangan ini?”

Surat terbuka ini saya tulis pada hari Rabu, 11 Juli 2018. Artinya menjelang 7 bulan usia kepemimpinan Bapak sebagai Gubernur. Dalam rentang masa tugas 5 tahun (2017-2022), perjalanan 7 bulan pertama, saya yakini sebagai fase “Ta’aruf”. Yaitu fase Bapak mengenali apa dan bagaimana Jakarta ini.

Mungkin baru mulai tahun kedua dan seterusnya, Bapak bisa benar-benar menjalankan program pembangunan secara tepat dan cepat. Ingatan kami masih melekat akan peristiwa sepanjang Pilkada Jakarta pada 15 Februari dan 19 April 2017 dengan semua rangkaian peristiwa yang mengiringinya.

Hari-hari ini, saya hanya bisa memanjatkan doa kepada Allah SWT agar Bapak Gubernur bersama Wakil Gubernur bisa terus mengemban amanah dan tugasnya hingga tuntas.

Sehingga tuntas pula pertanggungjawaban amal di hadapan masyarakat Jakarta dan di hadapan Sang Pemilik dan Pemberi Kekuasaan, Allah Azza wa Jalla.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA