Friday, 7 Rabiul Akhir 1440 / 14 December 2018

Friday, 7 Rabiul Akhir 1440 / 14 December 2018

Parpol Jangan Dahulukan Ego Majukan Ketum di Pilpres

Kamis 12 Jul 2018 20:09 WIB

Rep: Fauziah Mursid / Red: Ratna Puspita

 Sekretaris Fraksi PAN Yandri Susanto memberikan paparan saat konferensi pers perkembangan terkini di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (22/1).

Sekretaris Fraksi PAN Yandri Susanto memberikan paparan saat konferensi pers perkembangan terkini di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (22/1).

Foto: Republika/ Wihdan
PAN cukup realistis, tidak ngoyo, dan ngotot menghadapi koalisi Pilpres 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua DPP PAN Yandri Susanto menyarankan partai politik untuk tidak mengedepankan ego agar ketua umum partainya diusung sebagai calon wakil presiden sebagai syarat berkoalisi. Hal ini agar ada kesepakatan format koalisi baru sebagai penantang kuat di luar koalisi Joko Widodo (Jokowi).

"Ya menurut saya jalan tengah itu kalau parpol ini tidak mengedepankan egonya masing-masing, misalnya ketua umum nggak perlu maju,” kata Yandri saat diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk Menakar Cawapres 2019, Parpol Koalisi Pecah Kongsi atau Tetap Solid? di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/7).

Jika partai tidak mengedepankan egonya, ia mengatakan, maka akan memudahkan pencarian kader terbaik bangsa. “Kita bisa bangun format koalisi yang kuat dan saya kira itu bisa membuat format baru koalisi," ujar dia. 

Baca Juga: PKS Mau Menang, tak Sekadar Mendukung

Hingga saat ini, belum ada koalisi pasti dan kuat di luar poros koalisi Joko Widodo. Di kubu Jokowi, koalisi partai yang sudah terbentuk untuk menghadapi Pilpres 2019, yakni PDIP, Golkar, PPP, Nasdem, dan Hanura. 

PKB sebenarnya juga tergabung dalam koalisi Jokowi pada pemerintahan sekarang. Namun, ketidakpastian pengusungan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebagai cawapres Jokowi membuat partai ini berpotensi keluar dari koalisi.

PKB bersama empat partai yang tersisa, yakni Partai Demokrat, PAN, PKS, dan Partai Gerindra, belum memastikan koalisinya. "Lima partai ini belum memastikan akan bersatu atau tidak,” kata dia. 

Yandri mengatakan lima partai sebenarnya masih bisa menyisakan dua pasangan calon. “Apakah itu bisa terwujud atau tidak saya kira faktor penting ini menjadi kesepakatan 5 partai ini," kata Yandri.

Baca Juga: Hinca: Golkar Ajak Demokrat Gabung Koalisi Jokowi

Menurut Yandri, PAN siap duduk bersama dengan semua partai baik yang belum mendukung, yakni Partai Demokrat, Partai Gerindra, PKB dan PKS. Termasuk juga komunikasi dengan partai yang sudah mendeklarasaikan dukungan ke Jokowi.

Sebab, ia meyakini politik masih mungkin berubah sebelum pendaftaran capres ke KPU pada Agustus mendatang. Yandri melanjutkan, hitungan kalkulasi PAN dengan Gerindra saja sudah cukup untuk membuat koalisi calon sendiri. 

"Dengan Gerindra, PAN sudah pasti cukup bahkan lebih 2 persen. Karena itu, kalau besok bapak Prabowo ngajak bang Zul menjadi cawapresnya, saya kira PAN siap deklarasi," katanya.

Baca Juga: Cak Imin: Kalau Nggak Jokowi-Cak Imin Bahaya

Sementara dengan Demokrat, PAN masih harus menambah satu partai lagi jika ingin membuat koalisi poros lain. Namun, ia mengatakan, jalan ini menemui kendala terkait penentuan capres dan cawapresnya.

"Kita perlu satu lagi yaitu PKB atau PKS, kalau hal ini terjadi saya tak tahu siapa capres dan cawapresnya, tetapi yang paling mendekati itu kalau dengan Gerindra pasangan Prabowo-Zulhasan layak kita jual di tengah masyarakat," ujarnya.

Kendati demikian, ia mengatakan, PAN cukup realistis menghadapi koalisi Pilpres 2019. “PAN tidak ngoyo atau ngotot karena partai politik intinya adalah membangun kebersamaan, membangun koalisi yang disepakati secara bersama," ujat Anggota Komisi VIII DPR tersebut. 

Baca Juga: Demokrat Realistis Jika AHY tak Jadi Cawapres Prabowo

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Ketua TKN Buka Kegiatan Kamis Kerja

Kamis , 13 Dec 2018, 21:31 WIB