Wednesday, 5 Zulqaidah 1439 / 18 July 2018

Wednesday, 5 Zulqaidah 1439 / 18 July 2018

Pengamat: Mahfud Paket Komplet Jika Jadi Cawapres

Kamis 12 July 2018 16:41 WIB

Red: Bayu Hermawan

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD

Foto: Republika/Neni Ridarineni
Pengamat menilai Mahfud bisa menjadi pasangan ideal untuk Jokowi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik dari Universitas Indonesia Lely Arrianie menilai, sosok mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD merupakan paket komplet apabila menjadi calon wakil presiden. Menurutnya Mahfud bisa menjadi pasangan yang ideal bagi Jokowi di pilpres 2019.

"Kalau melihat hasil survei, banyak yang memilih Mahfud MD karena pengalaman ketatanegaraan lebih lengkap. Dilihat dari survei pemilih melihatnya sebagai paket komplet seperti itu," ujar Lely Arrianie, di Jakarta, Kamis (12/7).

Menurutnya, Mahfud MD memiliki pengalaman di lembaga eksekutif saat menjadi menteri dalam era Presiden KH Abdurrahman Wahid, legislatif saat menjadi anggota DPR, dan yudikatif sebagai mantan Ketua MK. Tidak cukup pengalaman itu, Mahfud juga dinilai memiliki pengetahuan agama yang kental, sehingga menjadi figur yang lengkap.

Menurut Lely, calon presiden seorang nasionalis sebaiknya memikirkan pemilih sosiologis dengan alternatif kalangan yang menyimbolkan kedekatan agama, tetapi tetap memperhatikan pengalaman dan pengetahuan dalam pemerintahan. Pemilih sosiologis yang memilih pemimpin berdasarkan agama, entitas, etnis dan wilayah di Indonesia cukup besar, sehingga pertimbangan pasangan nasionalis dan agamis menjadi ideal.

Dibandingkan Pemilihan Presiden 2009, kata Lely lagi, pemilih sosiologis relatif tidak tampak sehingga saat Susilo Bambang Yudhoyono menggandeng Boediono tidak terdapat riak-riak dalam masyarakat. "Sekarang pemilih sosiologis lebih nampak, meski sudah berkurang dibandingkan saat Pilkada DKI karena isu yang digoreng terus," ujar Lely.

Menurutnya, dalam hal Presiden Joko Widodo, siapa pun calon pendampingnya tidak akan menjadi soal karena partai pendukung tidak akan berubah apa pun keputusan Jokowi, sementara partai koalisi partai penantang belum jelas. "Siapa pun yang dipilih sah-sah saja, perlu dipikirkan Jokowi partai koalisi sudah ada dibandingkan penantang koalisi belum jelas. Seandainya Gerindra dengan Demokrat, poros ketiga tidak ada," ujar Lely.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES