Wednesday, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 December 2018

Wednesday, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 December 2018

Perang Tagar, Mendagri: Hormati Perbedaan Sikap Politik

Sabtu 05 May 2018 20:57 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Ratna Puspita

Mendagri Tjahjo Kumolo hadir pada Pembekalan Antikorupsi dan Deklarasi LHKPN Pasangan Calon Kepala Daerah se-Jawa Barat, di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa (17/4).

Mendagri Tjahjo Kumolo hadir pada Pembekalan Antikorupsi dan Deklarasi LHKPN Pasangan Calon Kepala Daerah se-Jawa Barat, di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa (17/4).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Dia mengajak semua masyarakat Indonesia menghormati sikap politik setiap individu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan berpolitik harus dengan martabat, termasuk menghormati perbedaan. Karena itu, dia mengajak semua masyarakat Indonesia menghormati sikap politik setiap individu.

"Marilah kita berpolitik dengan bermartabat di perbedaan yang ada. Mari kita menghormati etika yang ada, mari menghormati setiap individu yang berpolitik," kata Tjahjo di Kantor Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemendagri, Jakarta Selatan, Sabtu (5/5).

Tjahjo mengutarakan hal tersebut pascakejadian dugaan intimidasi dari sekelompok masyarakat yang mengenakan kaus #2019GantiPresiden terhadap pengguna kaos #DiaSibukKerja saat Car Free Day di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, Ahad (29/4) lalu. Menurut Tjahjo, hal tersebut merupakan perampasan hak seseorang dalam berekspresi. 

Padahal, setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat maupun mengeluarkan ekspresi termasuk dalam berpolitik. "Soal pilihan kan masing-masing beda, ndak boleh saya maksa Anda harus ikut saya, kan enggak bisa. Masing-masing memiliki hati nurani, pilihan politik, sikap politik, nah itu bebas diekspresikan," katanya.

Tjahjo menyayangkan masih ada masyarakat yang mempersoalkan perbedaan politik setelah 72 tahun negara Indonesia merdeka. Padahal, perbedaan tersebut bisa diaplikasikan dengan menggunakan hak pilih setiap individu pada saat pemilihan umum (Pemilu). 

Bahkan, ia menganggap tindakan tersebut sebagai perilaku yang tidak beretika. "Harusnya kan menghargai dong, saya mau Pak Jokowi, saya tidak. Ya nanti kita silakan gunakan hak pilih di TPS, jangan ribut ribut di jalan, itu kan tidak ada etika politik. Ini kan bangsa yang menjaga sopan santun etika dan budaya," tambahnya.

Massa aksi relawan Jokowi yang mengenakan kaos #DiaSibukKerja sempat berhadapan dengan massa aksi berkaos #2019GantiPresiden di Car Free Day (CFD) Sudirman-Thamrin, Ahad (29/4). Video yang viral di media sosial memperlihatkan salah satu kelompok yang melambaikan uang dan menuding aksi yang dilakukan oleh kelompok berkaus #DiaSibukKerja merupakan aksi bayaran.

Selain itu, seorang perempuan dengan kaos #DiaSibukKerja yang membawa seorang anak dan tampak mendapatkan intimidasi dari kelompok lain. Di video tersebut, anak itu tampak menangis.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA