Sunday, 9 Zulqaidah 1439 / 22 July 2018

Sunday, 9 Zulqaidah 1439 / 22 July 2018

Ini Alasan Mahfud dan Jimly Bakal Cawapres Potensial Jokowi

Kamis 19 April 2018 21:17 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Andri Saubani

Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari memaparkan hasil survei Capres 2019 di Jakarta, Ahad (3/12).

Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari memaparkan hasil survei Capres 2019 di Jakarta, Ahad (3/12).

Foto: Republika/Prayogi
Mahfud dan Jimly pilihan aman untuk menghindari kecemburuan parpol.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari menilai bakal calon presiden (capres) pejawat Joko Widodo (Jokowi) kemungkinan akan menarik cawapres dari kalangan nonpartai dan berlatar santri. Langkah ini paling aman untuk menghindari kecemburuan di antara parpol pendukung Jokowi.

Qodari menjelaskan, ada dua isu yang perlu diperhatikan dalam memilih cawapres Jokowi. Isu ini juga yang menjadi kelemahan Jokowi. Pertama isu ekonomi dan kedua, agama. Menurutnya, isu agama perlu lebih diutamakan ketimbang ekonomi.

"Dari dua itu, isu agama yang lebih gampang dimanipulasi dan dipolitisasi, karena itu, kemungkinan yang akan digandeng yakni yang berlatar belakang santri. Ada Said Aqil Siroj, Mahfud MD, Din Syamsuddin, dan Jimly Asshiddiqie," kata dia di Jakarta, Kamis (19/4).

Walaupun, diakui Qodari, masih ada persoalan jika Jokowi memilih pendampingnya yang berlatar santri. Sebab, menurut dia, jika pendampingnya dari kalangan Nadlatul Ulama (NU), kalangan Muhammadiyah belum tentu akan menerimanya. Begitupun sebaliknya.

"Jadi yang lebih bisa dipilih adalah yang bisa mewakili dua-duanya, sosok tengah yang bisa diterima semua golongan. Terminologinya itu 'MuhammadiNU'. Misalnya Mahfud MD, NU tapi ketua KAHMI, Islam modernis. Kemudian Jimly, ketua ICMI yang di dalamnya ada Muhammadiyah, NU, Persis dan lain-lainnya ada di situ," papar dia.

Qodari berpendapat, Mahfud dan Jimly merupakan sosok yang dapat dipilih oleh Jokowi. Terlebih, potensi munculnya penolakan dari parpol terhadap dua tokoh tersebut pun rendah. Mahfud maupun Jimly, memiliki citra dan prestasi yang bagus. Mereka pernah menjadi ketua MK, bukan orang partai, dan sudah senior.

"Kalau Bu Mega disodorin Mahfud atau Jimly, keberatan enggak kira-kira, menurut saya sih enggak. Mereka bukan orang partai, sudah senior, enggak akan maju lagi. Secara pribadi juga misal Pak Jimly orang Sumatra Selatan, tentu sudah kenal lama juga dengan almarhum Pak Taufik Kiemas dan Bu Mega," papar dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES