Senin, 10 Zulqaidah 1439 / 23 Juli 2018

Senin, 10 Zulqaidah 1439 / 23 Juli 2018

Qodari: Agak Berat Muhaimin Bisa Jadi Cawapres Jokowi

Kamis 19 April 2018 18:16 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Andri Saubani

Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari memaparkan hasil survei Capres 2019 di Jakarta, Ahad (3/12).

Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari memaparkan hasil survei Capres 2019 di Jakarta, Ahad (3/12).

Foto: Republika/Prayogi
Muhaimin lebih cocok jika menjadi cawapres untuk Prabowo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari menilai Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar agak berat untuk menjadi cawapres pendamping Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2019. Sebab, basis massa yang dimiliki Muhaimin tidak menambah suara untuk Jokowi.

"Yang lebih fundamental adalah, basisnya Muhaimin itu kalangan Islam tradisional, yang sudah relatif dekat dengan Jokowi, jadi dalam kondisi itu, mungkin Muhaimin tidak membawa suara baru atau segmen baru," tutur dia di Jakarta, Kamis (19/4).

Apalagi, lanjut Qodari, jika Cak Imin, sapaannya, dipilih untuk mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019, akan timbul kecemburuan di antara partai politik (parpol) pendukung Jokowi. "Jadi ya agak berat, karena partai-partai pendukungnya Jokowi ini kan banyak, kalau ngambil Muhaimin, nanti yang lain cemburu," katanya.

Menurut Qodari, justru Cak Imin lebih cocok menjadi cawapres untuk Prabowo. Ini juga akan menguntungkan bagi Prabowo yang basis massanya sebagian dari kalangan Islam modernis. Sementara Muhaimin, berlatar belakang Islam tradisional dan ketua umum parpol yang erat hubungannya dengan Nahdlatul Ulama (NU).

"Cak Imin justru paling menarik sesungguhnya buat Prabowo ketimbang Anies. Karena Muhaimin latar belakangnya adalah PKB, NU, Islam tradisional yang notabene selama ini bukan basisnya Prabowo," ungkapnya.

Sebelumnya, Ketua DPP PKB Lukman Edy mengungkapkan partainya akan tetap merapat ke koalisi parpol pendukung Jokowi demi kepentingan negara. Sebab, jika PKB hengkang dari koalisi tersebut, akan timpang karena tidak ada partai berbasis massa Islam yang bergabung di dalamnya.

"(Koalisi parpol pendukung Jokowi) jadi timpang karena dianggap cenderung sekuler, kesan dan imejnya akan tidak menguntungkan di tengah meningkatnya populisme Islam. Inilah posisi penting dari PKB," tutur dia.

Lukman melanjutkan, bila PKB bersama koalisi pendukung Jokowi, aspirasi keumatan akan tersalurkan. Simbol Jokowi yang nasionalis-sekuler, jelasnya, mau tak mau bakal menitipkan aspirasi keumatannya kepada Muhaimin atau PKB.

Kalaupun PDIP dan Golkar menunjukkan komitmen dengan agenda keumatan, lanjut Lukman, label sekulernya tetap tidak bisa dilepaskan. Dampaknya tentu akan dicurigai oleh umat Islam itu sendiri. "Positioning kita (di koalisi pendukung Jokowi) itu taruhlah representasi kepentingan umat bisa 50:50," ucapnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES