Senin, 3 Zulqaidah 1439 / 16 Juli 2018

Senin, 3 Zulqaidah 1439 / 16 Juli 2018

Pengamat: Nama-Nama Cawapres Prabowo Belum Ada yang Kuat

Ahad 15 April 2018 20:00 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Ratna Puspita

Prabowo Subianto

Prabowo Subianto

Foto: Republika/Putra M Akbar
Kandidat cawapres Prabowo harus lebih gencar menyosialisasikan diri sebelum Agustus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nama-nama yang beredar dalam bursa calon wakil presiden (cawapres) Prabowo Subianto masih belum memiliki kekuatan untuk menaikan elektabilitas ketua umum Gerindra tersebut. Nama-nama tersebut harus menyosialisasikan diri lebih gencar sebelum pendaftaran calon presiden-calon wakil presiden pada Agustus mendatang. 

"Nama-nama itu peluangnya masih sama belum ada yang lebih tinggi dari yang lain, belum ada yang punya potensi lebih tinggi untuk meningkatkan elektabilitas Pak Prabowo. Saya kira nama-nama itu harus disosialisasikan lebih sistematik kepada publik," kata Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan saat dihubungi Republika, Ahad (15/4). 

Nama-nama yang dimaksud Djayadi, yakni kader-kader yang ditawarkan oleh PKS, atau tokoh dari PAN karena elite partainya hadir dalam rapat koordinasi nasional (rakornas) Gerindra beberapa hari lalu. Selain itu, nama lain seperti Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, dan Tuan Guru Bajang Zainul Majdi.

PKS mengajukan sembilan nama kader PKS yang akan diusung menjadi pendamping Prabowo pada Pemilu 2019. Mereka, yaitu Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher), Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, mantan presiden PKS Anis Matta, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, presiden PKS saat ini Sohibul Iman, Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aljufri, mantan menkominfo Tifatul Sembiring, Muzammil Yusuf dan Mardani Ali Sera.

Menurut Djayadi, Prabowo harus berhati-hati dan kalkulatif dalam memilih cawapres. Dia berpendapat calon wakil presiden sebaiknya memiliki kemampuan mendongkrak elektabilitas Prabowo. 

Ia menilai, Prabowo penting mempertimbangan elektoral cawapresnya, di samping pertimbangan terkait kompetensi dan integritas. "Kapasitas elektoral itu penting,” kata dia. 

Karena itu sebelum pendaftaran capres dan cawapres pada awal Agustus, nama-nama yang telah diangkat tersebut sebaiknya mempromosikan diri mereka dengan baik. Dia menyarankan agar nama-nama tersebut memanfaatkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 untuk gencar menyosialisasikan diri. 

Dia menyebutkan Pilkada serentak tahun ini digelar di 17 provinsi yang mencakup 160 juta pemilih.  “Jadi kalau di pilkada juga bersosialisasi dengan berbagai cara, maka itu bisa menjadi kesempatan bagi mereka untuk mensosialisasikan diri. Pak Prabowo dan timnya bisa melihat tuh yang mana yang paling potensial," kata Djayadi menjelaskan.

Jika gagal meningkatkan elektabilitas, Djayadi menambahkan, bukan tidak mungkin Prabowo justru mendekati tokoh lain yang sudah menyosialisasikan diri seperti Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Cak Imin itu masih mungkin juga dilirik Prabowo kan, karena Jokowi banyak sekali yang ingin menjadi cawapresnya Jokowi," lanjut Djayadi.

Baca Juga: Survei KedaiKOPI: Gatot Favorit, TGB Paling Religius

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES