Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Hasil Pilkada Serentak Bisa Pengaruhi Elektabilitas Jokowi

Sabtu 24 Mar 2018 14:27 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Ratna Puspita

Joko Widodo

Joko Widodo

Foto: Republika/ Wihdan
Pilkada 2018 ini sangat spesial karena Jabar, Jateng, dan Jatim, menggelar pemilihan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 akan mempengaruhi elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Pilkada serentak tahun ini diselenggarakan di 117 daerah, termasuk tiga daerah dengan pemilih terbanyak pada pemilihan umum (Pemilu), yakni Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

"Semua itu masih bisa terjadi. Hari ini elektabilitas Jokowi masih 35 sampai 45 persen di beberapa hasil survey. Akan tetapi, saya rasa masih bergantung pada Pilkada 2018 ini. Apakah Jokowi bisa kalah? Saya rasa bisa ya, tidak ada yang selalu menang," kata Pengamat politik dari Lembaga Survey Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), Hendri B Satrio, kepada Republika, Sabtu (24/3).

Dia menjelaskan Pilkada 2018 ini sangat spesial karena Jabar, Jateng, dan Jatim, mengikuti pesta demokrasi ini. Ketiga wilayah ini cukup menentukan kemana nanti arah koalisi para partai ini.

Pilkada serentak 2018 akan kembali menjadi pertarungan Jokowi dan PDI Perjuangan dengan Prabowo Subianto bersama Partai Gerindra. Berkaca pada Pilkada DKI lalu, Hendri mengatakan, calon yang diusung PDIP dan mendapat dukungan dari Jokowi tidak berhasil menang.

Ia mengatakan, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang secara terang didukung oleh Jokowi pada akhirnya kalah dari Anies Baswedan yang diusung oleh Partai Gerindra. "Mungkin pada 2014, Jokowi (dan Ahok) masih menang, tetapi pada Pilkada setahun lalu itu kan tidak menyangka bisa kalah," kata dia.

Kendati demikian, Hendri mengatakan, hasil Pilkada serentak 2018 bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi kontestasi calon presiden dan calon wakil presiden tahun depan. Hal lain yang juga mempengaruhi, yakni koalisi yang bakal digalang oleh Gerindra.

Selain PKS, Gerindra perlu mengajak PBB dan PAN dalam barisan koalisi untuk menantang Jokowi. Bahkan, kata Hendri, kemungkinan PKB pun juga akan dilirik untuk digaet bergabung dengan koalisi Gerindra. "Ada beberapa yang memprediksi, PKB juga akan masuk ke dalam koalisi ini," tutur Hendri.

Koalisi Partai Gerindra, PKS, PAN, dan PBB, punya potensi mengalahkan koalisi pengusung Jokowi pada Pilpres 2019. Faktor yang juga sangat nenentukan kemenangan empat partai tersebut, Hendri menerangkan, figur yang diusung.

Sekarang ini, dia menyebutkan, nama yang mencuat sebagai capres merupakan lawan Jokowi pada Pilpres 2014, yakni Prabowo. Nama-nama lain yang punya potensi, ia mencontohkan Sohibul Iman dari PKS, Zulkifli Hasan dari PAN, dan juga Yusril Ihza Mahendra dari PBB.

"Namun Prabowo tampaknya juga melirik TGB (Tuan Guru Bajang). Bisa saja bila (Partai) Demokrat tidak kunjung pasang TGB, bisa diambil Prabowo," ujarnya.

Menurut Hendri, Demokrat sekarang ini sedang fokus menguatkan beberapa daerah. Partai Demokrat saat ini telah memusatkan pemenangan di wilayah Jabar.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA